Perjalanan Wisata Spiritual

Hari Sabtu kemarin (220111), saya berkesempatan untuk mengunjungi kota kelahiran Bapak saya di Kudus dalam rangka mengunjungi saudara yang melangsungkan pernikahan. Jika berbicara tentang Kudus, bisa jadi kesan pertama orang tentang kabupaten ini tidak jauh dari urusan rokok atau kretek. Maka, Kudus juga bisa disebut sebagai kabupaten kretek—-saya menyebut kabupaten karena memang Kudus bukanlah kota. Memang, begitu saya memasuki batas kabupaten Kudus, cukup banyak terpampang reklame rokok dan kretek. Namun, saya tidak tertarik karena memang saya tidak merokok dan tidak berniat untuk itu.

Kudus ini merupakan kabupaten terkecil se-Jawa Tengah. Nama Kudus ini berasal dari bahasa Arab, yaitu Qudus yang berarti suci. Sejarah penamaan Kudus itu sendiri berawal ketika Sunan Kudus membawa batu sebagai “hadiah” dari Baitul Maqdis (Al-Quds). Pada saat itu, Sunan Kudus sedang melaksanakan ibadah haji kemudian singgah di Baitul Maqdis untuk memperdalam ilmunya tentang agama. Di seluruh tanah Jawa, hanya ada satu tempat saja yang diberi nama dalam bahasa Arab, yaitu Kudus. Hal ini pun menjadi keistimewaan tersediri bagi Kabupaten Kudus.

Kudus memang bukanlah kota besar, tapi jika Anda berkunjung ke Kudus, Anda akan merasakan nuansa lain yang sudah tentu berbeda dari kota-kota besar. Saya merasakan udara Kudus tidak terlalu banyak tercemari oleh kendaraan karena memang-—menurut pemantauan saya—-kendaraan yang mendominasi jalanan adalah sepeda motor, sepeda (jenis onthel), dan becak. Maka, pantas saja ada beberapa ruas jalan yang memiliki jalur khusus untuk sepeda motor, sepeda, dan becak. Ada juga angkutan kota, tapi tidak semrawut. Dan yang tak kalah menariknya adalah di Kudus ini terdapat sarana becak wisata. Anda akan ditawari untuk mengelilingi jalanan Kudus dan-—yang tak boleh ketinggalan-—komplek Masjid Menara Kudus.

Masjid Menara Kudus merupakan landmark-nya Kudus. Jika berkunjung ke Kudus tapi belum singgah di Masjid Menara Kudus, berarti Anda belum ke Kudus. Pernyataan ini setidaknya menurut saya sendiri. Masjid Menara Kudus ini merupakan peninggalan dari Sunan Kudus yang dibangun pada tahun 956 H. Masjid Menara Kudus yang dibangun asli oleh Sunan Kudus telah dibongkar untuk kemudian dibangun kembali masjid yang besar seperti sekarang. Pembangunan ini berlangsung sekitar tahun 1918 hingga tahun 1919.

Masjid Menara Kudus ini pun menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Jika Anda melihat oleh-oleh khas Kudus, selain makanan, Anda akan menemui souvenir (kaos, merchandise, dll) yang bertemakan Masjid Menara Kudus, khususnya tentang menara. Selain wisata sejarah, Masjid Menara Kudus juga merupakan wisata ziarah, khususnya ziarah makam Sunan Kudus yang terletak di belakang masjid. Tidak tanggung-tanggung, pengunjung yang datang ada yang berasal dari luar Jawa Tengah, seperti seorang Bapak yang saya temui, kemudian saya tahu bahwa beliau datang dari Pasuruan dan datang bersama rombongan.

Kembali ke landmark Kudus, bangunan Menara Kudus itu sendiri merupakan bangunan dari tumpukan bata merah tanpa semen. Konon, nenek moyang kita dahulu, jika ingin mendirikan suatu bangunan, ditumpuklah bata merah yang belum matang—-artinya masih dalam keadaan basah. Kemudian, setelah disusun, bata merah tersebut dibakar sehingga menjadi kuat. Bangunan tersebut kuat karena memang memiliki zat perekat alami yang disebut dengan zat silica (silicium). Demikianlah teknik mendirikan bangunan menurut cara kuno.

Menara Kudus ini memiliki tinggi kira-kira 17 meter. Usia Menara Kudus ini ditaksir diantara 5 atau 6 abad. Namun, hingga kini masih terlihat kokoh dan menjadi objek kunjungan para wisatawan atau peziarah yang berkunjung ke Kudus. Tentu, Masjid Menara Kudus ini menjadi berkah tersendiri bagi geliat perekonomian dan pariwisata Kabupaten Kudus. Terlebih lagi, landmark Kudus ini pernah menjadi lokasi pengambilan gambar untuk film KCB 2. Di depan Masjid Menara Kudus terdapat banyak pedagang souvenir dan makanan oleh-oleh khas Kudus, seperti Jenang, kacang kulit, dll. Anda juga jangan ketinggalan untuk mencicipi makanan khas Kudus, seperti lentog (semacam Gudeg Kudus) dan soto Kudus. Adapun jika Anda berkesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke Jepara, jangan lewatkan juga makanan khas Jepara : Soto Udang.

Menarik sekali jika kita bisa menyempatkan diri untuk berkunjung ke daerah-daerah lain dan mempelajari budaya masyarakat serta sejarah daerah yang bersangkutan. Kita akan mendapatkan suasana yang berbeda dari biasanya. Melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dan menyaksikan tempat-tempat yang baru akan sangat menyenangkan. Kita bisa mengenal dunia di luar dunia kita yang biasanya. Melakukan perjalanan, mengganti suasana, dan menjelajah ke suatu tempat; pada dasarnya adalah proses pembelajaran karena kita bisa mempelajari buku alam semesta yang terbuka luas. Oleh karena itu, sesekali manfaatkanlah waktu luang kita untuk menjelajah ke tempat-tempat yang baru. Bumi Allah ini sangat luas, maka kita harus keluar untuk mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang tidak tercantum dalam buku. Pengalaman itu sungguh tak ternilai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s