(Akhirnya) Mencoba Arung Jeram

Fyuh. Setelah melalui proses yang panjang (dan rumit?) mencari peserta dan melakukan penundaan sebanyak tiga kali, akhirnya kami berkesempatan juga untuk mencoba olahraga yang terbilang ekstrem ini. Hari Minggu kemarin (300110); saya, Ghani, Priyandi, dan Rendy (berempat sahaja) berangkat menuju lokasi wisata arung jeram di kawasan Sungai Palayangan, Situ Cileunca, Pangalengan Bandung Selatan. Kami berangkat sekitar pukul 08.30 dari Bandung (dari kampus ITB) dan melakukan perjalanan sekitar dua jam.

Kami tiba sekitar pukul 10.30 di kawasan Situ Cileunca dan kemudian mencari markas Event Organizer IMOGI (gradient rafting) yang telah saya pesan semenjak bulan Desember lalu. Setelah beristirahat sejenak, kemudian kami disuruh untuk berganti pakaian dan memakai atribut keselamatan, seperti rompi pelampung dan helm. Sebelum mengarung, terlebih dahulu kami diberi pengarahan dan simulasi seputar pengarungan beserta prosedur keselamatan (rescue). Pengarahan dan simulasi ini dilakukan di Situ Cileunca.

Kami diajari tentang bagaimana memakai rompi dan helm; tentang bagaimana prosedur keselamatan jika perahu terbalik dan penumpang tercebur ke sungai; tentang bagaimana mematuhi perintah skipper (guide), seperti perintah berpindah ke kiri atau ke kanan perahu, mendayung maju atau mundur, bahkan—-yang paling ditunggu—-posisi duduk jika akan melewati jeram yang curam (dengan kode boom-boom). Arung jeram ini merupakan salah satu olahraga yang tergolong berisiko tinggi—-tergantung kondisi sungainya juga. Itulah sebabnya olahraga ini sarat dengan standar dan prosedur yang harus ditaati demi keselamatan dan kenyamanan bersama.

Setelah melakukan simulasi—-bahkan hingga simulasi tercebur—-di Situ Cileunca, kemudian tim kami berpindah ke Sungai Palayangan. Saatnya memulai petualangan dan mengaplikasikan prosedur serta simulasi yang telah kami terima. Di awal pengarungan, kami langsung disambut oleh jeram “selamat datang”. Sontak, nyali dan mental mulai tertantang. Adrenalin mulai meningkat ketika melewati jeram “domba” (jeram paling tinggi), setelah mendapat kode “boom-boom” dari skipper, kami langsung duduk merapat ke dalam perahu. Meskipun telah mengambil ancang-ancang, tapi saya tidak bisa menahan gaya hantaman dari depan, hasilnya mulut saya sempat ticatrok (mulut terbentur) dengan helm-nya Ghani😀

Pengarungan terus berlanjut. Di sekeliling sungai tempat kami mengarung ini merupakan kawasan hutan lindung dan perkebunan yang asri. Udaranya sangat segar, cuacanya sejuk, pemandangannya menyejukkan mata, dan sungainya terbilang agak jernih. Ketika itu, menurut saya, siapapun yang sedang mengarung akan merasakan kedekatannya dengan alam. Kami juga ditunjuki tempat di kawasan hutan lindung itu sebagai arena bermain paintball.

Setelah pengarungan melewati jeram-jeram dan bertabrakan dengan dinding batu, tidak terasa pengarungan kami akan mencapai garis akhir. Terlihat dari arus sungainya yang kian ke hilir kian mengecil. Hingga tiba saatnya kami di sungai yang tidak berbatu lagi dan arusnya agak tenang. Sebagai penutup pengarungan, skipper membalikkan perahu karet hingga kami bisa merasakan berenang di sungai yang sejuk airnya (sekaligus mempraktikkan simulasi tercebur :D). Badan kami yang memakai pelampung terbawa arus hingga ke tepian. Pengarungan telah berakhir dan mobil angkutan telah siap menjemput kami.

Akhirnya, terpuaskan juga rasa penasaran saya terhadap olahraga arung jeram ini. Dan yang pasti, akan banyak hikmah dan pengalaman yang bisa kita ambil dari olahraga arung jeram ini; mengenai kekompakan tim, kepatuhan terhadap perintah skipper, tidak melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan skipper, dan tidak boleh merasa paling tahu terhadap segala keputusan saat pengarungan. Dan perlu diingat, ikuti saja perintah skipper lalu biarkan arus sungai membawa Anda ke tempat yang dituju🙂

Anda ingin mencoba? Segera tuntaskan pekerjaan Anda, aturlah jadwal Anda, sesuaikan dengan jadwal rekan Anda, lalu Anda nikmati kebersamaan Anda dengan alam melalui olahraga arung jeram ini. Selamat mencoba dan menikmati tantangannya!


Rincian biaya :
1. Arung jeram (include Transportasi, makan, kamar bilas, asuransi, rescue) : Rp. 135.000,00
2. Bayar tiket masuk situ Cileunca : Rp. 5.000,00
3. Foto rafting : Rp. 12.500,00 (Rp. 50.000,00 dibagi 4 orang)

Total : Rp. 152.500,00 ++

6 thoughts on “(Akhirnya) Mencoba Arung Jeram

  1. Kiyoshi

    hohoho,, pengalaman arung jeram pertama saya juga di sungai ini.. jadi inget lagi pas skippernya bilang “BOOOOM”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s