Melenturkan Kekakuan Menulis Mahasiswa

Salah seorang teman saya yang hendak seminar beberapa waktu lalu, terpaksa harus mengundur seminarnya dan merevisi sebagian besar draft tugas akhirnya karena dosen penguji menilai bahwa penulisan draft tersebut tidak (belum) layak disebut sebagai karya ilmiah. Apa pasal? Menurut teman saya itu, kata dia, yang juga kata dosen penguji, draft yang ditulisnya belum memenuhi kaidah bahasa yang padu. Sedangkan dosen penguji mengatakan bahwa draft tersebut seperti hasil terjemahan bebas, lebih tepatnya terjemahan bebas yang tidak memerhatikan struktur bahasa (grammar), sehingga bahasa yang digunakan agak kurang sesuai dengan EYD.

Merasa penasaran, saya pun meminta izin kepada teman saya itu untuk membaca draft-nya juga. Setelah saya baca-baca, ternyata ada beberapa kesalahan yang terkait dengan penulisan karya ilmiah. Karya ilmiah bukanlah sebuah novel, jadi bedakanlah gaya penulisannya. Menulis karya ilmiah adalah menulis dengan gaya formal, sedangkan novel bergaya non-formal/semi formal tergantung penulisnya. Pada draft tersebut, saya perhatikan gaya bahasanya mirip dengan gaya bahasa bercerita dan sesekali saya temui gaya bahasa perumpamaan. Untuk menulis novel, gaya bahasa seperti itu akan membuat pembaca terlarut ke dalam cerita dan memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Namun, lain soal jika diterapkan ke dalam karya ilmiah.

Pada tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai petunjuk penulisan karya ilmiah. Namun, saya lebih menyoroti pada kebiasaan menulis mahasiswa dewasa ini. Salah satu “kejahatan” yang tidak boleh dilakukan oleh kaum terpelajar, seperti mahasiswa, adalah tidak memiliki hobi menulis. Setiap mahasiswa, sebagai insan akademis, tentu memiliki tanggung jawab untuk dapat menyampaikan ilmu yang dimilikinya. Salah satu media penyampaian ilmu tersebut adalah melalui tulisan.

Tidak memiliki hobi menulis sama saja mematikan gagasan yang ada di kepala. Padahal, siapa tahu justru gagasan tersebut sangat bermanfaat untuk dunia keilmuan, terlebih lagi masyarakat. Membiasakan menulis adalah bagian dari tanggung jawab mahasiswa, sebagai akademisi, dalam menyampaikan ilmu dan gagasannya. Terlebih lagi untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya.

Oleh karena itu, setiap mahasiswa harus berani memulai kebiasaan menulis. Menulis bukan hanya sekedar menulis makalah ataupun tugas, tapi juga berani menuliskan gagasan dan pemikirannya. Diharapkan, tulisan-tulisan tersebut bisa menjadi “bank” gagasan dan pemikiran. Maka, setiap mahasiswa seyogianya harus mau melenturkan kekakuan menulis dengan banyak menulis. Untuk tahap awal, membuat blog adalah sarana yang paling baik. Terlebih dahulu, menulislah untuk kebutuhan dan kesenangan pribadi. Lambat laun, kekakuan menulis mulai bisa dikurangi. Pada nantinya, diharapkan tidak ada lagi (atau minimal berkurang) mahasiswa yang merasa kaku dalam menulis, khususnya karya ilmiah. Itulah pentingnya membiasakan kebiasaan menulis sebagai tradisi ilmiah yang harus terus dijaga dan dikembangkan untuk dunia keilmuan yang semakin maju.

One thought on “Melenturkan Kekakuan Menulis Mahasiswa

  1. Pingback: Menulis Karya Ilmiah untuk Kalangan Mahasiswa « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s