Demo Anarkis: Demokrasi yang Kebablasan?

Aksi anarkisme berbau SARA kembali terjadi di beberapa daerah, yaitu kasus kekerasan yang terjadi terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten dan kasus pengrusakan gereja di Temanggung, Jawa Tengah. Kasus kekerasan berbau SARA tersebut semakin menambah deretan panjang sejarah kelam bangsa ini. Dengan mengatasnamankan suatu ormas tertentu, mereka melakukan tindakan pengrusakan tidak hanya kepada objek yang dituju saja, tapi juga pada fasilitas milik publik.

Mungkin kita tidak pernah habis pikir, mengapa ada manusia yang begitu tega mengorbankan keselamatan dan nyawa orang lain demi agenda kelompoknya? Motif dibalik tindakan dan implementasi di lapangan kadang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan nurani. Dimana rasa empati mereka terhadap penderitaan dan hak-hak orang lain? Apakah terbersit rasa bersalah di hati mereka? Penulis yakin, hati nurani setiap manusia akan menyuarakan kejujuran dan merindukan perdamaian.

Melihat kekerasan dan tumpulnya nurani manusia dari rasa iba dan rasa bersalah itu, telah membuat sebagian orang percaya bahwa ada sisi sifat manusia yang secara alami memang buas. Mungkin dalam aksi kekerasan ini, pernyataan Thomas Hobbes bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus) ada benarnya juga. Tampak nyata pula pernyataan malaikat dalam Q.S Al-Baqoroh ayat 30: “…Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”. Sifat manusia ini dapat bersifat universal, yaitu lintas suku, agama, dan ideologi.

Namun, yang menjadi permasalahan adalah setiap kelompok selalu mengaku bahwa hanya kelompok atau dirinya sajalah yang suci. Perasaan semacam ini telah membangun ilusi bahwa diri mereka selalu benar. Inilah yang mungkin menyebabkan setiap kelompok, entah itu berdasarkan ras, agama, ideologi, atau negara, merasa mendapatkan “legitimasi” untuk membasmi kejahatan. Dalam hal ini, kita tentu tidak ingin gejala primordialisme agama itu merambat pada hal-hal yang lebih luas.

Kemungkinan besar, sikap kebanyakan manusia yang cenderung mencari segala macam alasan untuk membenarkan dirinya berasal dari sikap infantil (bersifat kekanak-kanakan), yaitu merasa bahwa “aku berada di pihak yang benar”. Pun jikalau memang kedapatan berbuat salah dan pelanggaran,  maka mereka bisa beralasan: “Aku berbuat demikian karena ada pihak lain yang berbuat salah”. Dalam ilusi semacam ini, kelompok masyarakat tertentu tidak dapat mengoreksi kesalahannya sendiri. Oleh karena itu, berbagai tindakan kekerasan adalah akibat dari pencarian kambing hitam.

Sebagai bagian dari negara yang menjunjung demokrasi, tentu kita sangat menghargai kebebasan berbicara dan berkumpul. Namun, kita tidak boleh membiarkan proses demokrasi yang berjalan menjadi “kebablasan” tanpa arah. Kita tidak boleh memberi toleransi kepada pihak-pihak atau kelompok masyarakat yang mengajak kepada tindak kekerasan, apalagi yang berbau SARA. Kita tidak ingin demokrasi yang “kebablasan” tersebut mengarah kepada perpecahan bangsa. Kita juga tidak ingin mengabaikan ikatan persatuan dalam masyarakat yang heterogen dan multikultural hanya karena fanatisme yang sempit.

Oleh karena itu, sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi semangat musyawarah untuk mufakat, sudah sepantasnya setiap konfilik dan kekerasan yang terjadi di Indonesia diselesaikan secara dialogis. Mereka yang terlibat konflik, harus menjunjung semangat dialogis untuk mencapai kata mufakat. Bukan malah mengedepankan arogansi kelompok yang berujung pada tindak kekerasan. Kekerasan dalam bentuk dan atas nama apapun tidak dapat dibenarkan.

Ada satu hal yang dirasa hilang dari tradisi bangsa ini, yaitu mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat. Setiap individu bersikap pragmatis yang menganggap bahwa segala sesuatu itu bisa diselesaikan dengan kekerasan. Padahal, kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru lagi. Pada dasarnya, musyawarah bukan mencari kebenaran, tapi lebih kepada pencarian kata mufakat dari pihak-pihak yang bertikai dengan menjungjung nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu, tindak kekerasan dapat kita hindari jika setiap elemen bangsa memiliki keinginan (political will) untuk menyelesaikan masalah secara dialogis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s