Ranah 3 Warna: Man Shabara Zhafira

Saya baru saja membeli buku karya Ahmad Fuadi yang berjudul “Ranah 3 Warna”. Buku ini merupakan novel trilogi: Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan judul terakhir masih dirahasiakan (tapi menggunakan angka “1” di tengah judulnya). Saya belum membaca habis novel-nya, tapi saya ingin berbagi sedikit mengenai kalimat-kalimat inspiratif yang terdapat dalam novel ini. Jika Anda berencana untuk membeli buku di bulan ini, saya sarankan agar novel ini masuk dalam daftar belanja buku Anda. Terkhusus bagi mereka generasi muda yang memiliki impian setinggi langit dan sedang berusaha mengejarnya. Novel ini akan memberi energi lebih untuk membakar semangat Anda, juga saya.

“Hidupku selama ini membuat aku insaf untuk menjinakkan badai hidup, “mantra” man jadda wajada (siapa bersungguh-sungguh akan berhasil) saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.

Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu. Dan Alhamdulillah, aku sudah mereguk madu itu. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung.”

Mudah-mudahan, jika sempat (harus sempat) insya Allah saya akan menuliskan kembali apa yang saya dapat dan pahami setelah membaca tuntas novel ini. Tentu saja, dengan bahasa saya sendiri. Hal ini sebagai bagian dari proses “mengikat makna” agar apa yang telah saya (atau kita) baca tidak menguap begitu saja. Nah, kira-kira kapan selesainya? Tunggu saja.

About these ads

3 thoughts on “Ranah 3 Warna: Man Shabara Zhafira

  1. aspri

    kalo dulu pertama Pancasila, terus Trisila, terus Ekasila. saya menunggu rumusan ekasila-nya trilogi novel a fuadi nih, jadi penasaran…

    Reply
  2. Apriansyah

    setelah mengeluarkan buku negri 5 menara kini meluncurkan buku ranah 3 warna sangat menarik perhatian kepada para muda anak jaman sekarang dn dapat memberikan motifasi kepada pemuda2 anak remaja sekarang. cerita yg ke 2 ini dgn seorang anak bernama Alif bersemangat ingin mendapatkan beasiswa ke kanada perjuangn yg dia lalui sangat berat bahkan mencari pekerjaan sendiri sebagai membuat berita2 utk di muat media dn juga menjual barang Dor to dor utk ke butuhkan dirinya dan membantu amak dn adiknya setelah ayahnya meninggal….Pokonya cerita ke 2 berjudul Ranah 3 warna ini sangat bagus sekali ada sedih,senang dn duka….ku harap ada flm nya ni apa lagi cerita ini merantau ke bandung..mantap deh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s