Butuh vs. Ingin

Antara kebutuhan dan keinginan pada diri seorang manusia selalu menjadi pertentangan batin tersendiri. Seseorang harus benar-benar mendengarkan suara hati (nurani) yang terdalam untuk memastikan keputusannya sesuai secara proporsional. Sesuatu yang didasari oleh rasa ingin, biasanya didorong oleh hawa nafsu. Sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang memang perlu dipenuhi. Namun, kadang porsi keinginan selalu lebih besar daripada kebutuhan. Terlebih lagi jika memiliki harta dan posisi (jabatan) yang menjanjikan.

Besarnya keinginan daripada kebutuhan didasari karena adanya pergeseran sistem nilai dari yang idealistic menuju sensate norms. Pada norma idealistic, manusia masih memandang bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, maka tidak perlu terlalu cinta dunia. Oleh karena itu, pada norma ini, manusia masih memegang teguh nilai-nilai Ketuhanan. Sedangkan norma sensate dicirikan oleh adanya budaya hedonisme, materialisme, atau manusia yang sudah terlalu cinta dunia.

Hal yang menjadi permasalahan adalah keinginan untuk memuaskan nafsu sensoris manusia tidak ada batasnya. Bahkan, semakin banyak manusia memiliki harta, akan semakin menggebu-gebu tingkat keinginannya. Kecintaan terhadap dunia ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum akan semakin haus, sehingga tidak akan pernah terpuaskan dahaganya. Keinginan manusia yang tidak ada batasnya itu dihadapkan dengan ketersediaan sarana dan sumber daya yang terbatas. Hal inilah yang membuat manusia cenderung bersikap “aji mumpung” jika ada kesempatan sekecil apapun datang menghampiri.

Sebagai jalan keluar yang harus ditempuh adalah bagaimana belajar mengendalikan diri dari nafsu duniawi yang tidak ada batasnya. Tentu hal ini akan sangat berhubungan dengan bagaimana membangkitkan kesadaran spiritualitas manusia. Dengan kesadaran spiritualitas itu, akan membangkitkan kesadaran pada diri manusia bahwa kehidupan dunia adalah sebuah ilusi. Hendak kemana harta-harta kita dibawa? Mau diapakan kemewahan dunia yang kita pelihara? Toh, dunia tetap disini saja. Tidak ada yang dibawa mati, kecuali amal-amal kita. Kecuali, jika harta yang kita miliki dimanfaatkan sebagai bekal kematian.

Orang yang paling miskin bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, tapi orang yang paling banyak keinginannya terhadap dunia. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan apa yang ada. Selalu saja merasa kurang. Apa artinya banyak harta jika kita tidak pernah merasa cukup? Agar hati tetap kaya, lepaskan belenggu dari keinginan terhadap dunia, pastikan hanya yang kita butuhkan saja. Semakin banyak keinginan terhadap dunia, akan semakin memenjarakan hati kita.

One thought on “Butuh vs. Ingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s