Sebuah Dunia yang Dilipat

Kemajuan teknologi informasi dan globalisasi telah membuat segalanya menjadi mudah. Terlebih lagi ketika umat manusia telah mengenal teknologi WEB 2.0. Hanya tinggal beberapa klik, maka setiap urusan dapat diatasi dengan mudah. Setiap keputusan seolah berada di ujung jemari. Kedaan ini persis seperti yang diungkapkan seorang ekonom terbesar abad ke-20, John Maynard Keynes:

Betapa mengagumkannya kemajuan ekonomi yang dicapai oleh umat manusia. Penduduk London dapat memesan lewat telepon, sambil minum kopi di pagi hari di atas ranjangnya. Segala produk yang ada di bumi dalam jumlah berapa pun yang diinginkannya akan diantarkan ke depan pintu rumahnya dalam waktu yang diinginkannya pula.

Pada saat yang sama, dengan cara yang sama, ia dapat pula menggunakan harta yang dimilikinya untuk ikut mengelola sumber daya alam atau untuk membeli saham perusahaan-perusahaan yang bergerak di seluruh sudut bumi, tanpa mengalami banyak kesulitan.

Dan yang lebih penting lagi, ia menganggap bahwa kondisi semacam itu adalah sebuah kondisi kehidupan yang normal, pasti, dan permanen. Sebuah proses internasionalisasi yang dalam praktiknya sudah hampir komplit.

Keynes menulis tentang sebuah periode yang berakhir sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama hampir seratus tahun silam. Periode tersebut adalah puncak dari sebuah proses panjang yang ditandai oleh beberapa milestones, seperti penemuan telepon, telegraf, mesin uap, kereta api, mobil, pesatnya pertumbuhan sistem perdagangan bebas antar negara, pembukaan terusan Suez, dan yang semacamnya (memasuki era industri)

Faktor-faktor ini berkombinasi, saling mendukung satu sama lain. Kemudian melahirkan sebuah dunia yang hanya menjadi impian di zaman-zaman sebelumnya. Dunia baru itu berpijak pada sebuah sistem ekonomi yang ditopang oleh begitu banyak perkembangan baru yang memungkinkan seorang penduduk London, dengan secangkir kopi atau teh di meja kerjanya dan tanpa harus meninggalkan kenyamanannya di pagi hari, membeli sejumlah saham di New York, membeli barang dan jasa di Jepang, serta mengatur waktu liburan di Bali, sambil mengunjungi kolega bisnisnya di Malaysia.

Hampir seratus tahun setelah pengamatan Keynes tadi, kemajuan-kemajuan besar terus terjadi, hampir dalam segala bidang. Dilihat dari sudut pandang hari ini, warga London yang hidup pada dekade pertama abad ke-20 tidak menikmati banyak hal yang saat ini menjadi bagian kehidupan sehari-hari warga Indonesia. Banyak hal yang sekarang dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang normal, seperti televisi, laptop, internet, telepon genggam, kendaraan pribadi, gadget, dan semacamnya adalah bagian dari mimpi generasi sebelumnya. Bahkan, mungkin kecanggihan internet dan teknologi informasi adalah sebuah imajinasi generasi para pendahulu kita dan mulai terealisasikan di era milenium ini.

Pemikiran suatu generasi akan terus berkembang dan mungkin akan mencapai tahap imajinasi tinggi. Mungkin saja, untuk saat ini tidak terlihat realistis untuk direalisasikan. Namun, bisa saja beberapa tahun mendatang, imajinasi tersebut akan berwujud menjadi karya nyata. Melihat perkembangan teknologi informasi dan internet yang semakin canggih, saya pernah berimajinasi bahwa suatu saat di masa yang akan datang, siapa pun yang membuka dan menyalakan laptopnya dimana pun ia berada, ia bisa terkoneksi dengan internet. Entah di terminal, entah di pegunungan, entah di stasiun, selama ia memiliki laptop dengan fasilitas wifi, maka ia bisa terkoneksi dengan internet. Cukup realistiskah? Dunia telah dilipat.

5 thoughts on “Sebuah Dunia yang Dilipat

    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Hooh kang, tp dampak buruknya, nanti mungkin orang akan lebih akrab sama layar laptop drpd sama orang. Dan orang bakal ketawa-ketiwi sendiri dgn obrolan dr gadget-nya. Yah, balik lagi ke manusianya utk tdk menjadi manusia apatis.

      Reply
  1. 37degree

    sarapan di Jakarta
    rapat di Surabaya
    makan siang di Singapore
    makan malam di Tokyo

    dunia memang sudah dilipat

    bahkan batas negara jg sudah semakin gak jelas
    WNI bisa bekerja di USA, Arab Saudi, Malaysia, Jepang
    MNC mengeksplor sumber daya alam bumi pertiwi kita sudah biasa

    menarik🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s