Menulis Esai (yang Tidak Mudah)

Saya mengikuti sebuah lomba esai yang memiliki tema “Pembangunan Indonesia dari Berbagai Sektor”. Memang, temanya terlalu general sehingga membuat saya agak kesulitan untuk menentukan suatu bahasan khusus. Awalnya, saya ingin membahas topik tentang masalah toleransi beragama yang ada di Indonesia. Sebenarnya, ide ini muncul ketika ada insiden kekerasan atas nama agama beberapa waktu lalu. Namun, setelah saya pikir-pikir, bahasannya terlalu sensitif. Lagipula, saya bukan orang yang berkompeten untuk membahas lebih lanjut dalam suatu tulisan esai.

Setelah menimbang dan memikirkan apa yang menjadi minat saya, akhirnya saya memutuskan untuk memilih topik tentang pendidikan. Saya memang bukan pakar pendidikan, tapi setidaknya saya punya minat pada bidang ini. Lagipula, saya berencana untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan (insya Allah). Setidaknya, saya bisa lebih banyak belajar dan mendalami dunia pendidikan.

Pada dasarnya, kegiatan menulis adalah proses pembelajaran. Kegiatan menulis akan membuat kita “dipaksa” untuk lebih banyak belajar. Menulis bukanlah perkara menuangkan ide yang kita kuasai saja, tapi juga bisa menjadi proses pembelajaran dari suatu hal yang ingin kita kuasai. Saya memang bukan pakar pendidikan, tapi saya ingin belajar lebih jauh untuk mendalami dunia pendidikan. Maka, dalam penulisan esai ini saya membahas topik tentang pendidikan.

Seperti yang pernah saya tuliskan juga pada topik proses kreatif menulis, menulis adalah serangkaian proses yang tidak sekali jadi. Sebelum menulis esai ini, saya mencari beberapa referensi yang sesuai dengan bahasan yang akan saya angkat ke dalam tulisan. Saya membaca buku, majalah, internet, bahkan buku pelajaran SMA pun saya baca. Kesemua itu saya lakukan untuk memperkaya gagasan yang akan saya angkat. Pada intinya, orang yang menulis adalah orang yang membaca lebih banyak di atas rata-rata orang lain.

Bagi saya, menulis itu gampang-gampang-susah. Kata gampang tertulis dua kali, sedangkan kata susah hanya tertulis satu kali. Jadi, bisa dibilang menulis itu lebih banyak gampangnya. Tergantung juga kepada jenis tulisan yang akan kita buat. Untuk menulis esai misalnya, kegiatan ini bisa dibilang susah. Karena kita harus memutar otak, mendalami permasalahan secara komprehensif, merujuk kepada sumber yang akurat, dan menggunakan sudut pandang yang berbeda. Namun, usaha yang sulit pasti terbayarkan oleh kebermanfaatan dari tulisan yang kita buat. Tidak ada yang instan dalam berproses. Setiap tetes keringat saat berproses juga pasti terbayarkan.

Mudah-mudahan saja, tulisan esai yang telah saya buat dengan “susah” ini dapat memberikan manfaat dan sumbangsih yang berarti bagi para pembacanya. Syukur kalau bisa menang. Amin (mohon doanya juga dari para pembaca :)). Tulisan untuk lomba esai ini insya Allah akan saya posting setelah proses penjurian, supaya tidak terjadi “pencurian” gagasan.

2 thoughts on “Menulis Esai (yang Tidak Mudah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s