Cerita Tentang Sepeda

Saya yakin bahwa setiap orang memiliki kenangan atau cerita tersendiri mengenai sebuah barang yang selalu berada di dekatnya. Baik di masa lalu, maupun di masa kini. Namun, adakalanya memori seseorang diputar balik ke suasana masa lalu ketika sedang berada dekat dengan barang yang memiliki cerita tersendiri baginya, terlebih lagi barang yang sering digunakan di masa lalu. Ditambah lagi, kenangan tersebut akan kembali mencuat ketika barang yang dimaksud sudah tidak berada lagi dalam genggaman.

Saya juga memiliki cerita tersendiri mengenai barang yang saya miliki. Salah satunya adalah sepeda yang saya beli ketika saya muda dulu (baca: SMP). Pada saat itu, tren yang mencuat bermacam-macam. Namun, yang membuat saya tertarik adalah tren sepeda BMX. Rasanya, belum ada tren BlackBerry dan semacamnya di masa saya SMP dulu. Berbeda sekali dengan tren anak-anak remaja saat ini.

Jika berbicara tren bersepeda, rasanya tidak pernah surut dari waktu ke waktu. Dahulu, tren sepeda yang mencuat adalah sepeda model BMX seperti yang saya punya dulu. Namun, kini yang menjadi tren bermacam-macam, seperti sepeda model Hard-Tail, City Bike, Fixie, hingga sepeda lipat. Tergantung juga kepada penggunaannya. Jujur saja, dahulu niat saya memiliki sepeda adalah karena mengikuti tren anak remaja saat itu. Maklum, belum membudaya juga yang namanya Bike to Campus atau Bike to School dan semacamnya. Jadi, kepemilikan sepeda masih sebatas mengikuti tren, meskipun ada fungsi lainnya juga.

Sepeda yang ada pada foto di atas memiliki catatan tersendiri bagi saya. Sepeda ini menjadi cikal-bakal saya menyukai kegiatan bersepeda. Pada saat itu, rute terjauh yang pernah saya capai dengan sepeda BMX ini “hanya” sejauh jarak ke Dago Pakar. Ketika akan bersepeda ke Dago Pakar, teman saya malah bertanya keheranan. Apa kuat sepeda BMX mendaki jalanan menanjak? Memang, sepeda BMX ini tidak memiliki gear kombinasi. Namun, saya tetap kuat menggenjot waktu itu, meski sesekali harus menuntun sepeda.

Dari waktu ke waktu, bergantilah tren remaja saat itu. Lambat laun saya mulai jarang bersepeda lagi. Badan saya pun mulai tidak sesuai dengan sepeda BMX yang sekecil itu. Alhasil, sepeda BMX saya “sempat” teronggok untuk beberapa waktu lamanya. Dan saya pun beralih ke sepeda dengan ukuran yang besar (tinggi). Bahkan, hingga kini saya tidak “berhasrat” lagi dengan sepeda model BMX. Jadi, daripada teronggok tidak keruan di garasi rumah, sepeda BMX itu baru saja saya jual. Untuk apa menumpuk-numpuk barang yang tidak terpakai? Hanya akan menyempitkan rumah dan membuat mubadzir saja. Lebih baik, saya tukar saja dengan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan, meski saya belum bisa mempertontonkan free style BMX😀

Bagaimana cerita tentang Anda dan sepeda?

3 thoughts on “Cerita Tentang Sepeda

  1. bensdoing

    jenis bmx cukup berat lho buat jalan menanjak karena mmg frame dan juga dudukannya yang bukan settingan jalan nanjak…..tapi saya salut !
    salam kenal !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s