Rutinitas Mengajar

Menjelang masa-masa akhir dengan status (masih) mahasiswa ini, saya memiliki kegiatan baru yang kini menjadi rutinitas harian (kecuali Jumat, Sabtu, dan Minggu), yaitu mengajar. Saya harus mengajar beberapa kelas untuk kalangan anak SMA. Saya rasa, menghadapi anak-anak remaja (SMA) tidak semudah menghadapi anak-anak kuliah (mahasiswa). Notabene, mahasiswa adalah sekelompok orang yang (seharusnya) sudah terbentuk kedewasaannya. Jadi, kegiatan belajar sudah menjadi bagian dari tanggung jawab pribadi. Namun, untuk kalangan anak SMA, kedewasaan itu belum sepenuhnya tumbuh. Maka, kita (sebagai pendidik) harus mampu melakukan terobosan yang lebih dari sekedar mengajar, yaitu mendidik.

Mendidik dan mengajar merupakan dua hal yang berbeda. Konon, tanggung jawab seorang pendidik untuk kalangan SMA ke bawah lebih besar ketimbang untuk kalangan mahasiswa. Apa pasal? Berkaitan dengan kedewasaan itu tadi, bahwa mengajar (saja) adalah kegiatan yang dilakukan untuk kalangan yang sudah dianggap dewasa. Sedangkan bagi kalangan yang belum dianggap dewasa, kombinasi mengajar dan mendidik harus menjadi pertimbangan utama.

Mendidik dan mengajar merupakan seni tersendiri dalam mengembangkan sumber daya manusia. Kita harus paham benar cara menyampaikan materi ajar, dengan memperhatikan bahasa (kepada siapa kita berbicara) dan juga memahami metode anak didik dalam belajar. Hal yang tidak mudah tentunya. Dan yang menjadi tantangan adalah bagaimana membuat anak didik menyukai pelajaran yang mereka pelajari. Selain itu, bagaimana upaya kita untuk menumbuhkan kemandirian pada diri anak didik. Tentu hal ini harus dibangun secara mendasar dengan membantu anak didik untuk dapat memahami pelajaran secara bertahap (proses). Hingga kemudian tumbuh pola pikirnya.

Mengajar itu tidak semudah yang dibayangkan. Orang yang mengajar itu tentunya adalah orang yang harus paling banyak belajar. Bagaimana tidak? Untuk menyampaikan suatu materi di kelas, tentunya sang pengajar harus menguasai materi yang akan diajarkan. Mempersiapkan bahan ajar adalah “ritual” yang tidak boleh dilewati. Agar saat mengajar, kita dapat memahamkan suatu materi dengan baik dan meyakinkannya kepada anak didik. Penguasaan materi akan sangat memengaruhi kepercayaan diri dan keyakinan dalam menyampaikan materi. Tentu saja, keyakinan ini akan menjalar kepada anak didik. Jika pengajarnya ragu-ragu, hampir pasti anak didiknya pun ikut bingung.

Justru di sinilah seni dan tantangannya seorang pengajar. Kita akan menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Tidak monoton dan selalu dinamis. Pengajar adalah seorang yang senantiasa harus belajar. Ini juga sesuai dengan hakikat seorang manusia, yaitu sebagai pembelajar seumur hidup. Saya semakin yakin bahwa guru adalah pahlawan. Saya juga yakin bahwa guru-guru adalah pengemban tugas mulia. Kita tidak akan bisa sampai pada titik sekarang ini, jika bukan atas jasa dan pengabdian mereka.

Terpujilah engkau… Ibu Bapak guru….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s