(Mentradisikan) Kejujuran Ilmiah

Menurut pakar tafsir, M. Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati, dari Al-Quran dan Hadits dapat ditemukan puluhan petunjuk mengenai sikap ilmiah yang sangat diperhatikan oleh para ulama dan cendekiawan Muslim, sehingga pada akhirnya menjadi tradisi keilmuan mereka. Tradisi ilmiah ini juga (seharusnya) berlaku bagi kalangan akademisi, baik dari kalangan pendidik maupun peserta didik, termasuk mahasiswa. Tentu saja, tradisi ilmiah ini tidak disempitkan hanya untuk kalangan ulama ataupun akademisi saja, tapi juga berlaku bagi setiap orang yang menyandang atribut sebagai pembelajar. Salah satu bentuk tradisi itu adalah kejujuran ilmiah.

Sikap menjunjung tinggi kejujuran ilmiah berarti secara sadar memposisikan diri sebagai orang yang memiliki keterbatasan ilmu dan dengan jujur mengungkapkan apa yang tidak (belum) diketahuinya. Hal ini melahirkan, antara lain, pernyataan “Allahu’alam” (Allah lebih mengetahui) setiap selesai merampungkan suatu pernyataan yang berada di luar ruang lingkupnya dan dengan jujur menjawab “saya tidak (belum) tahu” setiap diajukan pertanyaan yang tidak diketahui secara persis jawabannya. Bahkan, bisa saja tidak memberi jawaban—-meski tahu jawabnya—-jika  diantara mereka ada orang yang lebih mumpuni untuk menjawabnya.

Seseorang yang diajukan kepadanya suatu pertanyaan, yang tidak ia ketahui secara persis jawabannya, maka ia hanya memiliki tiga kemungkinan: Pertama, menjawab secara tidak jujur kepada diri sendiri dan yang bertanya; kedua, berusaha meyakinkan dirinya dan yang bertanya dengan memberikan jawaban yang ilmiah, meskipun belum tentu diyakini kebenarannya; ketiga, bersikap jujur dan terbuka dengan berkata “Saya tidak tahu” atau “saat ini saya belum tahu, tapi akan saya carikan jawabnya”. Jawaban ketiga inilah yang disebut sebagai kejujuran ilmiah. Sejauh mana pengetahuan seseorang hanya sampai sebatas ia mengatakan “saya tidak tahu”.

Sikap demikian tertanam di kalangan ilmuwan Muslim masa lampau. Empat puluh pertanyaan pernah diajukan kepada Imam Malik, lalu 36 diantaranya dijawab dengan kalimat “saya tidak tahu”. Tradisi kejujuran ilmiah yang tertanam dalam dunia keilmuan di masa lalu nampaknya telah memudar pada keadaan kita di masa kini. Sikap diri merasa paling tahu selalu saja ingin ditonjolkan. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu. Jika tahu, katakan sewajarnya. Kejujuran seperti itu tidak akan memudarkan kepercayaan. Insya Allah.

Sekian banyak di antara kita yang berbicara tentang segala macam ilmu seolah tidak dikenal lagi spesialisasi. Sekian banyak kita terlibat dalam pembicaraan yang bukan merupakan ranah pengetahuan kita. Sikap semacam inilah yang melahirkan isu dan pemahaman baru yang tidak komprehensif sehingga menimbulkan banyak salah penafsiran. Jika tidak tahu, katakan dengan apa adanya bahwa “saya tidak (belum) tahu” dan jika perlu cari kebenarannya. Namun, jangan pula menyembunyikan pengetahuan yang kita miliki jika memang benar-benar diperlukan. Inilah yang perlu kita tradisikan kembali dalam dunia keilmuan kita. Perkembangan IPTEK jangan membuat kita malu untuk berkata “saya tidak tahu” atau “Allahu’alam”. Namun, jangan pula ketidaktahuan tersebut membuat kita berhenti belajar. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s