Rutinitas Mengajar (2)

Hari ini, tepatnya tadi, saya mengajar Matematika kelas 2 SMA. Tidak terlalu banyak godaan emosi karena anak-anaknya baik dan juga proaktif ketika saya mengajar. Rasanya, saya juga tidak pernah marah kepada mereka, sesulit apapun mengondisikan mereka, hehe. Mengondisikan massa tidak harus selalu dengan emosi kan? Bagi saya, kelas yang paling menyenangkan bukanlah kelas yang muridnya hanya duduk diam lalu mendengarkan gurunya. Namun, saya lebih senang jika murid saya proaktif, dalam artian mereka selalu aktif bertanya dan kritis terhadap setiap apa yang saya sampaikan.

Terlebih lagi ketika saya bertanya, “Sudah paham semua?” Sebenarnya saya agak ragu bahwa murid yang diam saja lalu mengangguk itu benar-benar sudah paham. Menurut pengamatan saya, tingkah murid yang seperti itu biasanya belum mengerti atau sudah sangat mengerti. Yang ada dalam pikirannya hanya dua: bingung mau bertanya apa dan memang sudah mengerti. Terus terang, saya lebih senang kepada murid yang jujur mengatakan bahwa mereka belum mengerti sehingga saya bisa menjelaskan lebih lanjut. Disinilah letak dari komunikasi antar guru dan murid.

Tapi, rata-rata kelas yang saya ajar murid-muridnya proaktif sehingga membuat saya (makin) senang mengajar. Semangat pengajar ditentukan juga oleh semangat muridnya. Jika muridnya sedang bersemangat untuk belajar, pengajar mana yang tega tidak mengajar dengan totalitas? Jika muridnya sangat proaktif bertanya, pengajar mana yang tidak ikut bersemangat? Tentu hal ini juga membutuhkan kesabaran yang lebih ketika sedang mengajarkan sesuatu yang amat sulit dipahami oleh murid. Bagi pengajar itu mungkin hal yang amat mudah, tapi mungkin bagi murid itu membutuhkan pemahaman yang mendalam. Jadi, adalah tugas pengajar untuk dapat memahamkan muridnya. (Terimakasih kepada Bu Hanni telah mengajarkan arti kesabaran dalam mengajar :))

Hubungan komunikasi antara guru dan murid harus terus dilakukan agar murid tidak canggung menyampaikan keluh-kesahnya seputar dunia pembelajaran, terlebih lagi masalah pribadi. Pada saat saya mengajar, selalu ada saja murid yang bercerita tentang rutinitas hariannya. Malah, ada juga murid yang bercerita tentang guru lainnya. Misalnya saja, mereka bercerita bahwa ada guru mereka yang tidak kreatif dalam memberi soal dan penjelasan. Soal yang diberikan sudah ada dalam text book, sehingga murid pun merasa tidak mendapat soal-soal yang variatif. Tentu saja, ini menjadi masukan yang berharga bagi saya, lebih tepatnya “sindiran” halus agar saya tidak berlaku seperti yang diceritakan oleh murid tadi. Artinya, setiap pengajar harus berani untuk kreatif.

Barangkali disinilah salah satu letak masalah (sebagian besar?) pengajar di Indonesia: kurang kreatif. Mau bagaimana lagi? Toh, para pengajar pun mengacu pada text book sehingga contoh-contoh yang disampaikan sudah diketahui murid dalam text book. Disinilah pentingnya kemauan para pengajar untuk berani memberikan sesuatu yang berbeda (kreatif) sehingga akan memberi wawasan lain kepada murid. Hal ini juga yang menjadi tantangan bagi saya untuk dapat memberikan sesuatu yang berbeda kepada murid. Oleh karena itu, para pengajar juga hendaknya tidak mengacu pada satu text book saja, tapi perkaya juga dengan rujukan yang lain.

Inilah dinamisnya dunia pengajaran dan pembelajaran. Membuat kita (pengajar) harus selalu mau belajar. Jika tidak, kita tidak akan memberikan sesuatu yang berarti bagi para murid. Bukankah orang yang mengajar adalah orang yang harus paling banyak belajar? Bukankah mengajar adalah tanggung jawab moral dari seorang yang terpelajar? Mohon doanya agar para pengajar di Indonesia dapat lebih meningkatkan kualitas dirinya sebelum (berencana) meningkatkan kualitas SDM pada umumnya. Bravo untuk guru-guru kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s