Cerita Tentang Menulis

Hari ini saya belum benar-benar menemukan ide yang tepat untuk dijadikan bahan tulisan di blog ini. Namun, saya akan tetap berusaha menggoreskan sesuatu. Sesuatu yang ingin kita biasakan, awalnya memang harus sedikit dipaksakan. Lama-kelamaan akan tumbuh menjadi suatu habits yang secara tidak sadar akan tertanam dalam kebiasaan kita sehari-hari. Begitu juga dengan menulis. Meskipun tidak ada ide yang benar-benar menarik, tapi saya akan berusaha menulis saja. Tentang apapun.

Saya ingin agar blog ini selalu update secara berkala. Idealnya sih setiap hari. Itu targetnya. Faktanya? Kadang pula untuk beberapa hari tertentu, blog ini tidak di-update. Alasannya, sibuk (klise?) dan memang sedang tidak memiliki akses internet (pledoi?). Saya ingin blog ini tetap update agar dapat terus menghasilkan manfaat. Isinya, seputar hal-hal yang saya alami; seputar hal-hal yang ingin saya ketahui lebih dalam; atau hanya sekedar pengikat ilmu. Persis seperti judul dari blog ini: ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Menulis saat ini bagi saya sudah menjadi sebuah kebutuhan yang harus saya penuhi. Dalam satu hari misalnya, saya mengalokasikan waktu satu jam dalam sehari untuk menulis. Itu pun jika memang ada sesuatu yang ingin saya tulis. Meskipun kadang saya merasa bingung sendiri dengan apa yang akan saya tuliskan setelah berada di depan notebook hitam saya ini. Jika begitu, saya akan kembali menutup notebook saya dan mulai membaca buku lebih banyak atau melakukan aktivitas yang lain.

Menulis adalah kemampuan yang harus terus diasah. Seperti yang pernah diucapkan oleh Anies Baswedan: seorang pemimpin yang baik harus memiliki kemampuan menulis yang baik pula. Sebuah tulisan dapat berdampak sangat masif bagi para pembacanya. Terlebih lagi saat ini kemudahan menulis didukung oleh kecanggihan dunia teknologi informasi atau internet.

Pada awal belajar menulis, rasa malu sering menghinggapi diri saya. Saya belum memiliki kepercayaan diri untuk mempublikasikan tulisan saya. Barangkali tulisan saya yang belum memiliki daya gugah kepada para pembaca. Atau barangkali tulisan saya belum bisa menginspirasi orang lain agar lebih baik. Kerap saya menuliskan sepatah kata, lalu menjadi sekelompok kalimat, hingga berhasil merampungkan satu paragaraf. Namun, sesaat kemudian saya hapus kembali tulisan saya tersebut. Saya merasa, tulisan yang saya hasilkan tidak (belum) mencerminkan diri saya yang sebenarnya. Lambat-laun, saya pun belajar untuk menulis sesuai dengan apa yang ada pada diri saya.

Tulisan saya hanyalah sekedar kumpulan pemikiran-pemikiran pribadi, opini, pengalaman, hingga unek-unek yang saya rasa perlu disampaikan. Setelah menuliskannya, ada perasaan lega dalam diri saya. Itulah barangkali yang membuat saya ketagihan untuk terus menulis. Barangkali hal ini juga dirasakan oleh para penulis lain dan narablog (blogger). Intinya, kepuasaan batin-lah yang harus diutamakan saat menulis. Urusan hasil, biarlah kesenangan menulis itu yang akan membuat kita terus belajar agar lebih baik lagi.

Saya yakin, setiap orang selalu ingin menjadi yang terbaik, termasuk saya. Saya—-dan juga Anda—-ingin agar kemampuan menulis dapat meningkat menjadi lebih baik pula. Saya juga ingin agar karya yang saya hasilkan benar-benar mencerminkan diri saya sendiri sehingga nantinya akan mencapai kepuasan batin. Tidak perlu menjadi orang lain. Cukuplah percaya pada kemampuan diri sendiri dan memang setiap orang itu unik. Dan tentu saja, kita ingin agar dapat menjadi lebih baik dengan gaya kita sendiri. Insya Allah bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s