Komunikasi Tulisan

Barangkali salah satu kendala utama dalam proses penyampaian komunikasi lewat tulisan adalah masalah ketersampaian maksud dan gagasan. Seringkali maksud yang ingin disampaikan penulis berbeda dengan apa yang ditafsirkan oleh pembaca, meskipun tidak selalu terdapat perbedaan penafsiran. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya ruang dalam penyampaian kata-kata dan kalimat, sehingga pemilihan kata (diksi) harus dibuat se-efektif dan se-efisien mungkin. Tentu hal ini menjadi rumit jika gagasan yang ingin disampaikan memerlukan penjelasan secara rinci, sedangkan ruang untuk berkata-kata dibatasi.

Saya pernah menulis opini untuk majalah kampus Soul of Campus, persyaratan tulisan mengharuskan saya untuk menuliskan opini hanya satu halaman saja, ditambah lagi dengan spasi sebesar 1.5. Tentu saja persyaratan ini sempat membuat saya bingung karena harus benar-benar memilih dan memilah kata secara cermat. Dan permasalahan tidak kemudian berhenti sampai di pemilihan kata saja, tapi juga berlanjut kepada masalah ketersampaian maksud dan gagasan. Memang, pembatasan tulisan tersebut dimaksudkan agar penulis tidak bertele-tele, tapi sedikitnya beri ruang lebih untuk tulisan opini. Ruang tulisan yang dibatasi akan membuat pembahasan menjadi kurang komprehensif, terlebih lagi untuk tulisan opini.

Selain ruang yang dibatasi, perhatian dan konsentrasi pembaca pun tidak bisa bertahan lama. Inti utama gagasan yang ingin kita sampaikan harus bisa ditangkap oleh pembaca secara cepat dan mudah. Tidak bertele-tele. Apalagi jika dihadapakan kepada tulisan panjang yang hanya bisa dibaca di layar (notebook, komputer), konsentrasi pembaca akan mudah buyar dan mata cepat lelah. Oleh karena itu, tulisan pendek biasanya akan (lebih disukai?) dan lebih banyak dibaca.

Untuk blog misalnya, tulisan pendek kadang lebih ramai dibaca ketimbang tulisan yang panjang. Terlihat dari komentar yang masuk—-meskipun bukan parameter mutlak. Memang, rata-rata tulisan di blog ini terbilang cukup panjang, hitung-hitung sebagai media bagi saya untuk belajar menulis. Jika benar para pembaca lebih menyukai tulisan yang pendek karena masalah daya tahan konsentrasi itu tadi, apakah para pembaca akan tetap membaca tulisan-tulisan (yang panjang) di blog ini? J Ataukah akan langsung dilewat (skip)?

Jika dengan cara komunikasi verbal (lisan), langsung tatap muka, maka kita bisa mendapatkan respon balik secara langsung. Beda halnya dengan komunikasi tulisan. Jika lawan bicara kita sudah mulai menunjukkan gerak-gerik sebagai tanda ingin menyudahi pembicaraan, kita bisa langsung mendeteksi bahasa non-verbal tersebut, lalu kemudian menyudahi pembicaraan kita. Tantangan komunikasi tulisan adalah tidak ada audible, visualisasi, maupun bahasa tubuh. Nah, jika menggunakan komunikasi tulisan, kita baru kemudian akan tahu respon pembaca jika ada yang berkomentar terhadap tulisan kita. Oleh karena itu, komentar menjadi sangat penting untuk memberi umpan balik. Maka, jangan sungkan untuk berkomentar.

Jika kembali ke masa saat internet belum mengemuka, tentu kita akan mengalami (banyak) masalah ketika harus berkomunikasi secara tulisan. Saat komunikasi antar daerah masih menggunakan surat (tulisan), proses komunikasi yang dilakukan tidak bisa berjalan efektif dan efisien. Mungkin masalah yang didiskusikan baru selesai setelah memakan waktu yang panjang. Nah, kini kita harus bersyukur dengan kehadiran internet dan web 2.0. Komunikasi tulisan hampir bisa menyamai komunikasi verbal (lisan) karena kemudahan dalam memberikan umpan balik secara langsung (real time), meskipun tidak secara langsung dapat bertatap muka.

Oleh karena itu, komunikasi tulisan sangat terbantu sekali dengan kehadiran internet dan web 2.0, khususnya dengan adanya blog, facebook, twitter, atau sejenisnya. Para pembaca dapat memberikan umpan balik secara langsung melalui fasilitas komentar. Namun, komunikasi tulisan ini tetap tidak akan berjalan efektif jika para pembaca masih sungkan (malu-malu?) dan enggan untuk berkomentar. Pembaca tidak berfungsi sebagai lawan bicara, tapi hanya sekedar penikmat saja. Jika dalam dunia nyata, ia hanya sebagai pendengar saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s