Hening

Saya menuliskan ini tepat pukul 11 tadi malam. Mata masih belum mengantuk. Suasana kamar juga sangat mendukung untuk berkontemplasi. Barangkali, di saat-saat seperti inilah seseorang akan lebih bisa bertafakur tentang apa yang telah ia lakukan sepanjang hari. Atau bahkan, merenungkan perilaku di masa lalu. Seseorang akan lebih mudah untuk bertafakur jika ia berani mengambil jarak dari segala rutinitas yang menyita sebagian besar waktu hidupnya. Bertafakur adalah bagian dari proses mengenal diri sendiri.

Saat-saat hening seperti ini, kita akan lebih mudah mendengar suara-suara yang bahkan selalu kita abaikan saat keramaian. Jarum jam dinding yang berdetak pelan. Sayup-sayup angin malam. Bahkan, suara hati kita sendiri. Inilah barangkali yang membuat kita bebal terhadap suara hati kita sendiri. Kita tidak pernah meluangkan waktu barang sekejap pun untuk menikmati keheningan seperti ini. Rutinitas telah mengambil jatah hak dari tubuh kita.

Ambilllah sepotong waktu dari separuh hari-hari kita untuk menikmati keheningan. Inilah yang akan selalu membuat kita dapat berfikir lebih tajam dan terarah. Di saat keheningan itulah, seringkali muncul ide-ide besar atau bahkan filosofi yang muncul dari berbagai perenungan. Seperti tulisan ini, Hoaamzz… ZzZzzzz.

2 thoughts on “Hening

  1. Ahmad

    jam segitu emang enak dipake merenung, jal.. sambil me-ninabobo-kan diri. Nulis ampe ketiduran :p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s