Memangnya Kenapa Kalau Tepat Waktu?

Entah apa obat paling mujarab yang bisa menyembuhkan penyakit akut yang satu ini. Seolah telah menjadi suatu hal yang lumrah dan dianggap wajar-wajar saja. Bahkan, telah jadi semacam budaya. Budaya ngaret tepatnya. Setiap ada janji atau pertemuan, selalu saja (kebanyakan) ada yang tidak disiplin soal waktu. Akibatnya, satu orang terlambat, bisa berpengaruh besar terhadap janji atau pertemuan hari itu. Karena orang yang terlambat tersebut adalah orang yang berpengaruh dalam pertemuan itu.

Inikah budaya sebagian besar masyarakat Indonesia? Saya juga tidak tahu. Apakah ciri masyarakat Indonesia yang penuh toleransi itu berpengaruh juga terhadap toleransi waktu? Sehingga selalu mentolerir keterlambatan. Bahkan, sedihnya, dalam beberapa pertemuan saya pernah (sering) kecewa. Apa pasal? Waktu pertemuan yang telah dijanjikan ternyata telah diatur untuk mengantisipasi keterlambatan. Akibatnya, orang yang sudah datang tepat waktu harus menunggu dulu. Kan tidak semua orang berniat untuk datang terlambat.

Jika merujuk kepada apa yang dikatakan oleh Jim Collins: setiap orang itu memiliki budaya dan beberapa orang memiliki kedisiplinan. Namun, hanya sedikit saja orang yang memiliki budaya disiplin. Barangkali itulah yang menjadi permasalahan sebagian besar masyarakat kita: kedisiplinan belum menjadi budaya. Padahal, dulu sewaktu ospek, pelatihan, atau menjalankan kepengurusan suatu organisasi, kita selalu dididik untuk disiplin. Namun, kenapa seolah kedisiplinan itu tidak melekat?

Itu baru urusan pertemuan atau janji secara individual. Bagaimana dengan hal yang melibatkan banyak orang? Organisasi misalnya. Seolah masih terkesan lumrah jika ada keterlambatan dari suatu kegiatan organisasi. Urusan rapat misalnya, kadang rapat yang dilakukan tidak berjalan efektif karena alokasi waktu untuk rapat telah berkurang akibat menunggu orang yang datang terlambat. Untuk urusan rapat saja masih (selalu) terlambat. Bagaimana bisa mewujudkan visi organisasi yang lebih besar lagi?

Bagaimana ya caranya agar setiap pertemuan atau janji yang telah disepakati bersama bisa ditaati secara disiplin? Apakah perlu dengan ancaman? Ataukah dengan kelemah-lembutan saja? Tapi ya jadinya dilema, kalau dengan mengancam nanti kesannya terlalu kaku. Atau kalau diperlakukan secara lemah lembut, nanti dikira tidak tegas. Jadinya serba salah. Ada metode yang efektif? Apa harus dibuat fungsi kontrol? Mohon diingatkan juga ya kalau saya sampai tidak disiplin.

NB: jangan pernah merasa rugi bagi mereka yang sudah disiplin (tepat waktu), meskipun yang lain datang terlambat. Toh, dengan ketepatan waktu tersebut, kita sudah memiliki nilai tambah.

3 thoughts on “Memangnya Kenapa Kalau Tepat Waktu?

  1. Asop

    Huh! Iya, saya juga kesal sekali dengan budaya jam karet (“rubber watch”😀 ) di negara kita ini.😡

    Pernah saya tulis juga di blog saya, perihal jam kerat yang pernah saya alami, di sini.😐

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Yup, bener ya sop.. Gimana ya caranya mengondisikan budaya tepat waktu? *tentunya kitanya sendirinya juga harus jd teladan🙂

      Bagus juga ulasan kamu, sama kasusnya sama saya. Sedetik waktu saja amat berharga, jgn pernah mempermainkan waktu. Intinya jangan pernah merasa rugi kalo kita udah tepat waktu, meskipun yang lainnya datang terlambat. Toh, kita udah punya nilai lebih dari kedisiplinan kita.

      Reply
  2. rini

    Iya bener ya kang.. Jam karet emang susah diilangin. Ketepatan waktu bisa berpengaruh besar dalam kualitas sebuah organisasi..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s