Tujuh April

Pengalaman “7 April” yang paling berkesan bagi saya adalah ketika memasuki usia 17 tahun. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA. Saya masih ingat waktu itu adalah hari Kamis, tepat tanggal 7 April 2005. Ternyata sudah enam tahun berselang, tidak terasa. Rasanya, seperti baru kemarin saya merasakan pengalaman itu. Saya benar-benar merasa berkesan sekali karena pada waktu itu, saya mendapat kejutan dari teman sekelas saya. Tepat di ruangan kelas saya waktu itu. Ruang kelas 2 IPA 5 di lantai dua dan di depan pohon jambu. Jadi, begini ceritanya.

Waktu itu, saya pergi ke sekolah seperti biasa. Tanpa merasakan firasat apapun. Saya mencoba bersikap wajar-wajar saja waktu itu. Maklum, biasanya yang berulang tahun akan diminta mentraktir. Jadi, saya pura-pura tidak tahu saja. Lagipula, mentraktir bagaimana? Penghasilan pun saya belum punya. Uang jajan saya juga terbatas. Intinya, saya mencoba bersikap wajar-wajar saja. Jika pun ada yang tahu saya berulang tahun dan meminta traktir, ya saya jawab saja kalau saya tidak ada perencanaan untuk itu. Simple kan?

Masuk kelas pun saya mencoba bersikap wajar-wajar saja. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri saya. Jam demi jam pelajaran berlalu, hanya beberapa orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Saya berharap, jangan sampai terjadi kehebohan. Toh, inti dari berulang tahun adalah meningkatkan kadar rasa syukur atas usia kita. Bukan terletak pada traktiran-nya. Jika ada rezeki lebih, ada baiknya juga bersyukur dengan berbagi kebahagiaan dengan yang lainnya. Tapi, tidak melulu traktiran.

Ternyata dua jam pelajaran terakhir tidak ada gurunya. Ya sudah, seperti kebanyakan anak remaja lainnya, kami mengobrol di kelas sampai waktu bubar tiba. Ada juga yang membawa gitar saat itu. Saya mencoba membawakan lagu-lagu bersama teman saya. Beginilah anak muda. Merasa senang kalau tidak ada guru. Padahal, itu adalah sebuah kerugian! Huh, baru saya sadari di kemudian hari. Ternyata, keributan di kelas kami mengganggu kelas sebelah sehingga membuat guru yang mengajar di kelas tersebut marah.

Seolah sedang bersekongkol, teman sekelas menuding saya (yang kemudian saya tahu ini hanyalah sandiwara) sebagai biang keributan karena saya tertangkap basah sedang memegang gitar. Guru bahasa Inggris kami, Bu Fitriyas, marah kepada saya (kemudian saya tahu juga kemarahan Bu Fitriyas hanya sandiwara). Lalu, semua kelas terdiam. Saya sempat heran, teman sebangku saya kok dari tadi tidak kelihatan? Pergi kemana saja dia? Lalu saya diminta Bu Fitriyas untuk mengembalikan gitar ke kelas sebelah. Saya turuti saja kata beliau, walaupun saya merasa enggan karena merasa diperlakukan tidak adil.

Saya merasa bahwa saya lah satu-satunya orang yang menjadi biang keributan saat itu. Seolah menjadi korban persekongkolan teman-teman sekelas. Akhirnya saya mengembalikan gitar ke kelas sebelah. Dengan wajah muram, saya kembali ke kelas saya. Begitu masuk, teman-teman saya langsung menyanyikan lagu “Selamat ulang tahun”. Sontak saja saya terkaget-kaget dan tidak bisa berkata apa-apa (speechless). Ternyata ini semua hanya sandiwara yang telah dirancang teman-teman saya. Saya merasa terharu sekali. Ternyata mereka sengaja mendiamkan saya di awal-awal jam pelajaran karena bermaksud memberi kejutan kepada saya.

Dan yang lebih membuat saya terharu, ternyata teman sebangku saya yang sedari tadi entah pergi kemana, dia membelikan saya kado dengan uang udunan dari teman-teman. Saya semakin tidak bisa berkata-kata. Kue ulang tahun yang sedari tadi disembunyikan, mulai dikeluarkan beserta lilinnya. Saya disuruh untuk meniup lilin bertuliskan angka 17. Tadinya yang ingin saya sembunyikan, ternyata harus heboh juga.

Alhamdulillah¸saya memiliki teman-teman yang baik. Pengalaman yang berkesan. Kadonya berupa kaos, dompet, dan pernak-pernik. Kaosnya sekarang sudah kekecilan. Dompetnya sudah lusuh karena langsung saya pakai selama kurang lebih 3 tahun. Pernak-perniknya masih saya simpan dan  tidak tahu mau diapakan.

Ya Allah, jadikan umur terbaik kami di penghujungnya. Jadikan amal terbaik kami di penutupnya. Jadikan hari-hari terbaik kami saat bertemu dengan-Mu.

NB (OOT): Biasanya, ucapan selamat ulang tahun secara khusus diutarakan melalui SMS. Namun, setelah makin canggihnya peralatan teknologi, apalagi setelah munculnya FB, mengucapkan selamat ulang tahun tidaklah lagi merupakan suatu hal yang spesial. Karena umumnya, orang jadi ingin praktis mengucapkan lewat FB. Maka dari itu, kadar ke-spesial-an nya menjadi berkurang. Ya itu tadi, orang yang mengucapkan lewat wall FB biasanya mengucapkan selamat ulang tahun setelah melihat reminder di FB. Bukan karena sengaja mengingatnya. Mengucapkan selamat ulang tahun di wall FB tetap saja terasa bedanya jika menggunakan SMS atau mengucapkan langsung. Inikah dampak dari kecanggihan teknologi? Yang sudah dekat jadi terasa jauh?

Saya mengucapkan terimakasih kepada yang telah memberikan ucapan selamat, doa, dan harapan kepada saya. Mudah-mudahan, kita semua diberikan usia yang berkah.

3 thoughts on “Tujuh April

  1. Kiyoshi

    wow,, waktu sma yah. kejutan yang menarik dan menyenangkan.
    waktu sma saya mah lempeng-lempeng aja. teknologi belum secanggih sekarang. yang tahu hanya yang hapal aja. biasanya temen deket.

    anyway,, selamat Zal, semoga semakin barokah.😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s