Tradisi Mencatat

Dalam suatu seminar, kajian, ceramah (kecuali ceramah Jumat), ataupun forum keilmuan lainnya, saya sering mendapati kebanyakan orang yang mengikuti forum tersebut tidak mempersiapkan alat tulis dan kertas untuk mencatat. Ada yang hanya membawa alat tulis saja, tapi tidak memiliki kertas. Ada yang memiliki kertas (kertas dalam bentuk apapun), tapi lupa membawa alat tulis. Jadinya, tetap saja mereka tidak bisa mencatatkan ilmu yang mereka dapat. Padahal, dalam forum keilmuan seperti itu, akan sangat banyak pengetahuan yang akan kita dapatkan. Pengetahuan yang kita dapatkan tersebut harus kita catat agar tidak lupa.

Sepertinya, orang yang datang ke forum keilmuan tidak ingin direpotkan dengan membawa alat tulis dan kertas untuk mencatat. Menurut pengamatan saya, mereka lebih suka datang, duduk, lalu mendengarkan paparan ilmu dari pembicara. Memang, daya tangkap dan gaya belajar setiap orang berbeda-beda. Ada yang memiliki tipe audio, visual, atau kinestetik. Mungkin saja, orang yang memiliki tipe audio akan lebih nyaman dengan hanya mendengarkan saja. Beda halnya dengan yang bertipe visual dan kinestetik. Namun, perlu diingat bahwa ingatan kita pun memiliki keterbatasan. Ada kalanya lupa terhadap ilmu yang baru saja kita dapatkan.

Itulah pentingnya mencatat. Mencatat berarti menuliskan ilmu yang telah kita dapat. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitu kata Ali bin Abi Thalib r.a. Belajar dengan menuliskan ilmu akan lebih tertanam kuat dalam ingatan kita dibandingkan dengan hanya mendengarkan saja. Karena dengan mencatat, kita dapat mengolaborasikan ketiga tipe belajar sekaligus. Mendengar (audio), lalu mencatat (kinestetik), dan membuat catatan dengan gaya tersendiri (visual). Dengan begitu, kegiatan belajar atau mencari ilmu pun akan menjadi lebih mangkus (efektif).

Oleh karena itu, mari kita biasakan dalam forum keilmuan apapun untuk mencatat ilmu yang kita dapatkan. Memang, tidak semua harus kita catat. Sesuaikan saja dengan kebutuhan dan yang relevan dengan kepentingan kita. Adakalanya, ilmu tersebut belum tentu bernilai untuk saat ini. Namun, jika kita dapat membuat arsip dokumentasi yang rapi dari ilmu-ilmu yang telah kita dapatkan—-dengan mencatat, arsip dokumentasi tersebut bisa kita manfaatkan di kemudian hari sebagai aset pengetahuan. Bisa jadi, pengetahuan yang belum terasa manfaatnya saat ini akan menjadi bernilai di kemudian hari.

One thought on “Tradisi Mencatat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s