Empati Berkendaraan

Saya seringkali mendapati mobil yang diparkir seenaknya di pinggir jalan. Akibatnya, mobil yang diparkir tersebut jadi membuat macet. Seperti tadi pagi, jalur jalan yang saya lalui macetnya minta ampun. Ternyata penyebabnya adalah bis yang diparkir di pinggir jalan. Setelah melewati bis situ, jalanan jadi lancar lagi. Bagaimana ya perasaannya si pemilik bis itu? Apakah dia tidak merasa telah men-dzholimi hak-hak pengendara yang lainnya.

Hal serupa juga pernah saya temui di depan restoran atau tempat usaha yang berada di pinggir jalan utama. Seringkali yang punya usaha tersebut tidak memikirkan lahan parkir yang memadai, sehingga pengunjung yang datang mau tidak mau harus memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Jelas ini membuat macet. Jalan raya dijadikan tempat parkir. Malah, di lajur kiri jalan ada tanda “vallet parking”. Bagaimana manajemen perusahaan tersebut?

Agaknya, kita harus berhati-hati dengan tindakan seperti ini. Bisa jadi merugikan hak-hak orang lain. Itu berarti, kita men-dzholimi orang lain. Bisa jadi, tindakan seperti itu yang menghalangi keberkahan dari usaha yang sedang dijalankan. Mari berlatih empati. Mari berlatih merasakan apa yang akan dirasakan orang lain jika kita melakukan suatu perbuatan tertentu.

One thought on “Empati Berkendaraan

  1. hendragalus

    Yaa….sepertinya itu tlah menjadi budaya orng Indonesia.. Padahal seharusnya kita memikirkan juga hak orang lain.. jangan milik umum seenaknya digunakan seperti miliknya sndiri..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s