9 Summers 10 Autumns

Saya baru saja selesai membaca novel karya Iwan Setyawan, seorang anak sopir angkot dari kota Batu yang kemudian menjadi direktur perusahaan di New York selama 10 tahun (itulah yang mendasari judul novel ini). Tidak perlu memakan waktu lama untuk menamatkan novelnya, karena berbeda dengan novel-novel kebanyakan, novel ini bisa dibilang tipis. Novel ini sebenarnya adalah otobiografi dari seorang Iwan yang dituturkan secara jujur, apa adanya, dan tidak bertele-tele.

Saya tidak akan mengupas ceritanya secara detail, biar Anda bisa membacanya sendiri. Yang menjadi keunikan dari novel ini adalah gaya penulisnya dalam menuturkan cerita. Biasanya, novel-novel kebanyakan memulai cerita dari awal hingga akhir, atau bisa dibilang beralur maju. Namun, di novel ini, penulis menggunakan alur mundur. Jadi, ia bercerita dari titik akhir, lalu menceritakan tahap demi tahap kisahnya dari awal. Mulai di akhir, berakhir di awal.

Jika pada novel kebanyakan, penulis biasanya secara langsung bertutur kepada pembaca. Namun, pada novel ini, penulis menggunakan tokoh figuran atau tokoh imanjiner yang menjadi medium dalam bercerita. Tidak disebutkan asal-usul tokoh imajiner tersebut di novel ini, tapi satu hal yang pasti, tokoh imajiner tersebut digambarkan sebagai seorang bocah.

Jadi, kebanyakan pada setiap bab dari novel ini adalah cerita penulis yang dituturkan kepada seorang bocah tadi tentang perjalanan hidupnya. Mungkin ini gaya bertutur penulis yang ingin menyampaikan suatu pesan tanpa terkesan menggurui. Ia menggunakan figur seorang bocah mungkin karena bocah senang mendengar cerita, jadi ia bisa bercerita apa saja. Dan secara tidak langsung, pembaca berperan sebagai “pendengar” juga.

Pada dasarnya, novel-novel yang berkisah tentang kisah sukses seseorang tidak terlepas dari latar kegigihan, kesederhanaan, keprihatinan, dan kerja keras. Di novel ini pun diceritakan seperti itu, berangkat dari keluarga kecil di Kota Batu yang hidup dalam keprihatinan. Bapaknya sopir angkot, ibunya tidak tamat SD. Namun, saudara-saudaranya bisa merasakan pendidikan, termasuk penulisnya sendiri. Akhirnya, dengan pendidikan terbukalah jalan menuju dunia luar. Dunia yang akan mengubah dirinya dari ketertutupan pikiran.

Penulis bertutur secara jujur dan terbuka dalam novel ini. Saya menilai bahwa, keterbukaan dalam bercerita berangkat dari kebanggaan penulis dalam setiap kisahnya. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Ia benar-benar hidup dalam keprihatinan. Hingga suatu saat, pendidikan membuka tabir gelap itu. Ia berhasil melanjurkan pendidikan ke tingkat sarjana, kemudian bekerja di perusahaan multinasional. Karena prestasinya, ia dipromosikan menjadi direktur di New York.

Sebenarnya, jika Anda berharap ada konflik yang mendebarkan dalam novel ini, Anda akan kecewa. Novel ini tidak terdapat konflik yang berarti, tapi tetap menyampaikan sebuah pesan. Karena memang penulis menuturkan apa adanya, tanpa bumbu-bumbu konflik. Cerita yang disampaikan mengalir begitu saja. Pembaca tidak akan dibuat tegang atau penasaran dengan cerita selanjutnya.

Saya mendapat pelajaran dari novel ini bahwa, setiap orang berangkat dari keluarganya masing-masing. Jika di lingkungan keluarganya baik, maka ia akan baik di masyarakat. Keluarga adalah basis pengembangan diri seseorang. Dan juga, peran orang tua sangat berarti dalam kehidupan kita. Sebuah pesan untuk selalu mensyukuri orang-orang di sekitar kita. Selain itu juga, kesuksesan kita hari ini adalah andil dari orang-orang terdekat kita. Itulah nilai-nilai yang saya tangkap dari novel ini, selain kerja keras dan doa.

Silakan baca novel ini lebih lanjut dan temukan sisi-sisi melankolis dari Iwan Setyawan.

One thought on “9 Summers 10 Autumns

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s