Kaum Intelektual di Dunia Ketiga

Dalam pengertian sehari-hari, istilah intelektual sering disamakan dengan terpelajar (well educated) atau berpendidikan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena di antara orang-orang yang berpendidikan tinggi tersebut dikenal berbagai tipe. Kita kenal sarjana-sarjana hukum, ekonomi, atau ilmu sosial-politik yang mau tidak mau banyak terlibat dalam persoalan-persoalan sosial-politik.

Namun, kita juga mengenal sarjana-sarjana teknik, sains, arsitek, ataupun komputer yang lebih condong ke persoalan-persoalan material praktis atau teknis. Di lain pihak, ada sarjana-sarjana imu sosial, hukum atau ekonomi yang bekerja pada lingkup material praktis atau teknis. Mungkin karena mereka bekerja di bank, perusahaan swasta, atau instansi pemerintah.

Ada pula sarjana-sarjana teknik, sains, dsb yang terlibat dalam masalah politik, mungkin karena mereka menjadi anggota partai politik atau mengikuti persoalan sosial-politik karena tugasnya di universitas dan masyarakat. Dengan demikian, keterlibatan masing-masing tipe kaum terpelajar dalam kehidupan sosial-politik tidaklah sama.

Maka, kaum intelektual tidaklah selalu bisa disama-ratakan. Ini bergantung kepada kompetensi masing-masing individu dan bidang yang sedang digelutinya. Intinya, seorang intelektual adalah seseorang yang cakap atau memiliki keahlian dalam bidang yang sedang digelutinya. Tidak selalu harus mengacu kepada pendidikannya di perguruan tinggi. Yang penting, bagaimana personal branding keilmuannya tersebut bisa diterima oleh masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s