Cerita dari Jalanan

Dari Pasar Minggu, saya naik minibus “Debora” dengan tujuan UI, Depok. Ternyata, cukup sekali naik saja. Tidak perlu pindah ke angkutan lain. Inilah enaknya kalau mau menuju tempat-tempat strategis. Lain halnya kalau mau menuju lokasi yang tidak strategis, harus pindah-pindah angkutan. Itu juga belum tentu ada. Kalaupun ada, belum lagi harus ngetem dulu.

Tapi, alhamdulillah, tidak pakai ngetem lama. Langsung berangkat. Lewat tol dalam kota dengan kecepatan tinggi. Dan yang paling menyeramkan, saya duduk di bagian paling belakang di dekat pintu. Dengan pintu yang selalu terbuka, kalau tidak hati-hati bisa rawan juga. Apalagi suka ugal-ugalan, meski kondisi kendaraan tidak mendukung untuk dipacu dalam kecepatan tinggi.

Akhirnya, sampai juga di Depok. Saya turun di dekat jembatan penyeberangan yang mau ke UI. Dari halte, saya menunggu bis kampus UI yang entah mulai beroperasi sejak kapan. Dari jauh, sudah terlihat bis kuning. Kali ini, bis-nya benar-benar beda dengan minibus “Debora” tadi. Bis kampus ini mirip sekali dengan busway dan ber-AC! Pokoknya juara!

Wah, serasa jadi anak UI😀. Jika dilihat dari sarana-nya, ITB sepertinya kalah. Ini kali kedua saya datang ke UI, pertama kali saya ke UI sewaktu menghadiri sidang promosi doktor Uwa saya di bulan Juni 2010 lalu. Ternyata kondisinya sudah sangat berubah—-lebih baik. Insya Allah, Rabu depan saya akan ke UI lagi untuk menghadiri undangan workshop MUN. Mudah-mudahan saya tidak lupa rutenya.

Office of Head of University of Indonesia, taken from mosque veranda

One thought on “Cerita dari Jalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s