Eksplorasi Geothermal untuk Kemandirian Energi Nasional

Kawasan Indonesia berada di lintasan cincing gunung api (Ring of fire) sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara yang rawan terhadap bencana. Namun, tidak selamanya potensi bencana tersebut menjadi ancaman. Di balik ancaman tersebut, selalu terkandung berkah yang sangat bermanfaat bagi tanah air kita tercinta ini.

Potensi bencana bisa berubah menjadi potensi yang bermanfaat. Di balik potensi bencana gunung api tersebut, tersimpan berkah potensi panas bumi (geothermal) yang berlimpah ruah. Menurut hasil penelitian yang dilansir oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), potensi geothermal Indonesia adalah potensi terbesar di dunia karena mampu menghasilkan listrik sebesar 28.100 mega watt (MW).

Potensi tersebut tersebar sesuai dengan lintasan cincin gunung api, mulai dari kawasan Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Potensi geothermal yang berlimpah itu patut kita syukuri. Terlebih lagi, geothermal ini termasuk pemasok energi yang ramah lingkungan dan tidak menghasilkan polusi, berbeda halnya dengan pemasok energi berbahan bakar fosil.

Lebih dari itu, selain sebagai pemasok energi yang ramah lingkungan, geothermal juga merupakan sumber energi yang dapat diperbarui, sehingga sumber energi ini tidak akan pernah habis selama Bumi masih berputar. Proses pemanenan geothermal juga tidak terlalu rumit, hampir mirip dengan Pembangkit Listrik Tenaga UAP (PLTU).

Keduanya—geothermal dan PLTU—sama-sama mengandalkan uap untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Namun, bedanya, uap pada PLTU dihasilkan di permukaan Bumi dengan menggunakan boiler, sedangkan uap pada geothermal berasal dari reservoir panas dari perut Bumi. Namun, kendala terbesar dalam penerapan pembangkit listrik geothermal di Indonesia adalah karena kendala dalam penyediaan komponen yang masih harus diimpor.

Penerapan pembangkit listrik geothermal di Indonesia masih tersendat-sendat karena masih tingginya biaya investasi. Sebab, teknologi dan suku cadang yang digunakan belum bisa dihasilkan dari negeri sendiri. Inilah alasan mengapa Indonesia masih belum bisa mandiri dalam hal penyediaan energi nasional.

Jika eksplorasi geothermal ini masih belum dilakukan secara serius, kita akan terus tergantung kepada sumber energi yang tidak terbarukan (bahan bakar fosil). Bahan bakar fosil suatu saat akan habis karena terus dieksploitasi untuk memasok kebutuhan energi nasional. Ini akan menjadi bom waktu bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Lebih Ekonomis

 

Dari sudut ekonomis, pemanfaatan geothermal lebih relatif menguntungkan jika dibandingkan dengan energi lainnya, seperti matahari, angin, air, dan biofuel. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih belum ekonomis. Teknologi fotovoltaik yang berfungsi untuk mengubah sinar matahari menjadi energi listrik masih sangat mahal, sehingga pemanfaatannya belum efisien.

Pembangkit Listrik Tenaga Angin pun masih memiliki keterbatasan, hanya cocok diterapkan di daerah-daerah tertentu saja yang cenderung berdataran tinggi dan luas. Begitu juga dengan tenaga air. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) masih berskala mikro karena sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan ketersediaan air.

Sedangkan untuk biofuel, juga masih belum ekonomis. Energi yang berasal dari bahan nabati ini harus bersaing dengan bahan pangan sehingga harganya masih sangat mahal. Ditambah lagi dengan pertimbangan ketersediaan bahan pangan untuk masyarakat. Jadi, bisa dibilang biofuel ini kurang kompetitif.

Utopia Kemandirian Energi Nasional

 

Kalau sekarang ini sudah banyak ladang sumur minyak atau gas alam yang ditinggalkan karena sudah tidak berproduksi lagi, atau sudah dilakukan pengeboran, tapi ternyata sumur yang digali tersebut tidak menghasilkan minyak atau gas, akan lain halnya dengan sumur geothermal. Tenaga geothermal tidak akan pernah ada matinya. Ini harus dimanfaatkan untuk mencapai kemandirian energi nasional.

Sebagai contoh, Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal di Kamojang, Garut, Jawa Barat, yang dibangun sejak tahun 1983. Hingga kini mesin pembangkit masih terus menghasilkan listrik dengan kapasitas total 140 MW. Selain itu, keunggulan lain geothermal adalah dapat dipanen secara kontinyu, tak terkendala cuaca.

Namun, sayangnya sampai saat ini Indonesia baru memanfaatkan geothermal untuk listrik sebesar 1.189 MW atau 4.3 persen dari potensi yang ada. Sisanya masih berada di perut Bumi sebesar 95 persen yang belum dipanen dan dimanfaatkan menjadi listrik (Koran Jakarta, 12 Desember 2010).

Menurut catatan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2005), sumber bahan bakar listrik terbesar berasal dari batubara (32.7%), gas bumi (30.6%), minyak bumi (26.2%), dan air (2.4%). Sedangkan pemanfaatan geothermal untuk tenaga listrik masih sangat kecil, baru mencapai 3.8 %. Untuk itulah, kini saatnya Indonesia memberi perhatian lebih kepada sumber energi yang terbarukan, seperti geothermal.

Di lain pihak, untuk mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang eksplorasi geothermal ini, sudah seyogianya institusi-institusi pendidikan semakin mengembangkan kelompok keahlian ini, yaitu dengan membuka program studi tentang geothermal atau mengembangkan yang sudah berjalan.

Geothermal sebenarnya mampu membawa babak baru bagi pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia. Sudah saatnya kita mampu untuk lebih memanfaatkan kekayaan alam negeri sendiri. Diperlukan juga tekad dan visi yang jelas agar kita mampu mewujudkan kemandirian energi nasional yang efisien dan dapat diperbarui. Bukan hanya untuk generasi saat ini, tapi juga untuk anak-cucu kita kelak.

One thought on “Eksplorasi Geothermal untuk Kemandirian Energi Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s