Iming-iming Vs. Kepepet

Ada dua hal yang menyebabkan seseorang tidak tergerak untuk berbuat sesuatu, yaitu impiannya kurang kuat atau tidak dalam kondisi kepepet. Inilah yang dinamakan sebagai motivasi. Motivasi yang kuat timbul dari impian yang kuat. Atau bisa jadi, tidak memiliki impian, tapi sedang dalam kondisi kepepet. Maka, motivasi ini timbul karena keterdesakan.

Perlu diketahui, motivasi yang kuat itu tumbuh dari dalam diri. Dari dua hal di atas—impian dan kepepet, yang tumbuh dari dalam diri adalah impian. Sedangkan kepepet adalah sebuah kondisi yang tercipta dari dunia luar. Motivasi yang berangkat dari impian akan tumbuh lebih kuat karena motivasi tersebut muncul atas kesadaran pribadi. Tidak ada paksaan dari luar.

Sedangkan kepepet adalah kondisi dari luar diri kita yang mengharuskan kita berbuat sesuatu, baik itu yang kita suka maupun tidak. Namun, kadang kita secara tidak sadar membiarkan diri kita masuk ke dalam zona kepepet karena meremehkan impian dari awal. Ini sama saja halnya dengan menunda-nunda pekerjaan sehingga akan menumpuk di akhir. Mau tidak mau, pekerjaan tersebut harus kita selesaikan—cepat atau lambat.

Nah, yang seringkali kita lakukan adalah hanya menggunakan impian sebagai “iming-iming” untuk melakukan atau meraih sesuatu. Kadang kita terlupa untuk memikirkan ancaman jika kita tidak melakukan hal tertentu. Seringkali impian yang dilandasi dengan “iming-iming” akan mudah pudar, mungkin karena dihantam kemalasan, pesimis, atau faktor yang berasal di luar diri kita.

Beda halnya jika kita terdesak untuk melakukan sesuatu karena mengetahui ancaman jika tidak melakukannya. Maka, kita cenderung akan lebih sigap dan bergegas dalam bertindak. Inilah yang dinamakan kondisi kepepet. Konon, orang akan termotivasi jauh lebih kuat jika dalam kondisi kepepet. Bukan karena iming-iming. Maka, muncullah anekdot, “Kondisi kepepet adalah motivasi terbesar di dunia.”

Allah pun menyeru kepada manusia untuk melakukan ketaatan dengan dua kondisi: iming-iming dan ancaman. Ancaman ini dikaitkan dengan kondisi mendesak (kepepet). Seperti yang tertuang dalam Q.S Al-Ahzab[33]: 35, Allah memberikan iming-iming kepada manusia.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dan pada ayat selanjutnya, Q.S Al-Ahzab[33]: 36, Allah memberikan ancaman—sebagai perwujudan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, karena adakalanya manusia tidak menggubris iming-iming tersebut.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Namun, jangan disalah-artikan dengan selalu mengondisikan diri kita dalam keadaan terancam (kepepet). Jika memiliki waktu luang, maka gunakanlah sebaik mungkin dan munculkan motivasi yang kuat dari dalam diri agar sesuatu yang kita lakukan tersebut dapat berkelanjutan. Lakukanlah lima hal sebelum lima hal: lapang sebelum sempit (kepepet), kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati.

One thought on “Iming-iming Vs. Kepepet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s