Kembalikan Misi Suci Pendidikan!

Ketika kita berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa, tidak mungkin bisa dilepaskan dari aspek pendidikan. Pendidikan erat kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan suatu jalan untuk membentuk karakter individu dalam suatu masyarakat sehingga nantinya individu-individu tadi akan bertaransformasi menjadi manusia yang paripurna.

Pendidikan seharusnya menjadi dataran bersama yang menempatkan seluruh anggota masyarakat mewujudkan cita-cita bersama. Pendidikan menciptakan pengetahuan bersama yang menjadi dasar seluruh tindakan bernegara sehingga kesatuan bangsa dapat diwujudkan berdasar prinsip kesetaraan untuk mencapai kemajuan bersama. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya menduduki ruang utama dalam rangka pembangunan bangsa dan negara.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah mencanangkan misi suci pendidikan karakter bagi seluruh elemen pendidikan. Namun, di lain pihak, muncul problema yang memprihatinkan, yaitu timbulnya gejala-gejala yang malah mencederai misi suci dari pendidikan itu sendiri. Misi suci pendidikan itu adalah bagaimana mencetak  alumni  pendidikan  yang unggul, beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.

Jika melihat fenomena dalam dunia pendidikan saat ini, tentu kita harus mengembalikan misi suci pendidikan yang sedikit-banyak telah terdegradasi. Salah satu fenomenanya adalah masih mahalnya kejujuran di kalangan peserta didik. Seperti yang terjadi pada siswa kelas VI SDN II Gadel, Surabaya, Jawa Timur, yang harus menghadapi kenyataan pahit dalam penegakkan kejujuran akademis. Kejujuran dinilai sebagai barang langka. Orang yang menegakkan kejujuran di masa kini akan banyak mendapat kecaman.

Seseorang akan melakukan hal-hal yang tidak jujur karena tiga hal: keterdesakan, moralitas, dan sistem. Faktor keterdesakan dan moralitas adalah sesuatu yang tumbuh dari dalam diri seseorang. Tentu dua hal ini erat kaitannya dengan masing-masing individu. Namun, lain halnya dengan sistem. Sistem adalah faktor yang berada di luar diri seseorang, sehingga mau tidak mau, seseorang yang terjebak dalam sistem yang buruk akan ikut terbawa buruk.

Yang menjadi permasalahan kini adalah sistem dalam dunia pendidikan kita belum baik. Sehingga seluruh elemen yang terlibat di dalamnya akan mengikuti sistem yang sedang berjalan tersebut. Salah satu hal yang menjadi kontroversi dalam dunia pendidikan adalah adanya Ujian Nasional (UN). Di satu pihak, UN berfungsi sebagai media evaluasi bagi peserta didik, untuk mengukur sudah sejauh mana pemahaman dari proses pembelajaran. Di pihak lain, UN dinilai tidak adil, karena tidak mampu mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh.

Memang, kita membutuhkan sistem evaluasi untuk mengetahui hasil dari setiap proses pembelajaran. Namun, jangan menjadikan UN sebagai alat evaluasi yang mutlak, karena hasil evaluasi yang didapat—dari UN—tidak akan mampu merepresentasikan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. UN hanyalah media evaluasi yang hanya mampu mengukur kemampuan kognitif peserta didik, tapi melupakan aspek psikomotorik dan afektif. Oleh karena itu, dari pelaksanaan UN ini selalu muncul kontroversi, salah satunya adalah masalah kecurangan UN.

Inilah alasan mengapa pendidikan di Indonesia belum mampu menghasilkan sumber daya manusia yang seimbang antara ilmu, karakter, dan moralitasnya. Jika kita melihat kembali pada misi suci pendidikan, pendidikan pada hakikatnya tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga secara seimbang harus menanamkan karakter positif terhadap sikap, perilaku, dan tindakan seseorang.

Tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang yang baik. Siapakah manusia yang baik itu? Yaitu manusia yang mengenal dirinya, lalu ia mengenal Tuhannya. Ia mengenal potensi yang ada pada dirinya dan mampu mengembangkannya. Pendidikan akan menghasilkan manusia paripurna yang dapat memaknai hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan dan makhluk sosial. Hal ini dimaksudkan agar manusia yang berpendidikan itu cerdas otaknya sekaligus waras perilakunya.

One thought on “Kembalikan Misi Suci Pendidikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s