Seputar BBM Bersubsidi

Sebagai pengguna kendaraan bermotor, barangkali kita sudah membaca spanduk di SPBU-SPBU yang bertuliskan seperti ini:

Premium adalah BBM bersubsidi hanya untuk kalangan tidak mampu.

Ternyata, himbauan itu tidak berhenti sampai disitu saja. Menurut media-media, kini pihak Kementerian ESDM menggandeng MUI untuk membuat fatwa seputar penggunaan BBM bersubsidi ini. Meskipun masih sebatas wacana. Kali ini, himbauannya kurang lebih bernada suara seperti ini:

Kalangan orang mampu haram membeli premium.

Perlu kita sikapi sebelumnya bahwa keputusan ini belum mencapai tahap akhir, masih sebatas wacana media. Namun, jika saja fatwa ini diberlakukan, maka ada hal yang akan menjadi ambigu. Keambiguan tersebut bisa saja membuyarkan hukum fatwa itu sendiri.

Apa parameter “mampu” ini?

Jika kita cermati, kendaraan adalah kebutuhan tersier: kebutuhan yang bisa terpenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Tentu saja konsumen BBM bersubsidi adalah para pemilik kendaraan. Ini menandakan bahwa mereka adalah orang-orang mampu.

Jika memang yang dimaksud “mampu” adalah para konsumen yang memiliki kendaraan di atas tahun 2005, mestinya ditulis detail pada spanduk itu. Dan jika memang parameter “kalangan tidak mampu” adalah mereka yang memiliki gaji di bawah UMR atau pengangguran, ya tuliskan juga.

Kita menyadari bahwa cadangan energi fosil semakin menipis. Sedangkan pertumbuhan kendaraan semakin meningkat. Maka, tak heran jika kita sama-sama mencemaskan keadaan ini. Mungkin juga pemerintah ingin memberi himbauan kepada kita secara halus. Dalam istilah bahasa, kita menyebutnya euphimisme. Namun, kadang niat euphimisme itu justru menjadi salah ketika ditafsirkan.

Barangkali, sebagai anekdot saja, nantinya pemerintah perlu membuat spanduk dengan tambahan keterangan, seperti ini:

Premium adalah BBM bersubsidi hanya untuk kalangan tidak mampu*

Diujung himbauan diberi tanda keterangan (*) yang isinya:

*Gaji di bawah UMR, pengangguran, ataupun sopir kendaraan umum. Harap membawa surat keterangan tidak mampu.

Dan satu lagi:

Kalangan orang mampu* haram membeli premium

Dengan keterangan (*):

*Gaji di atas UMR dan memiliki kendaraan di atas tahun 2005.

Nah, kalau halal-haram, itu menjadi wilayah kekuasaan Allah. Wallahu’alam bisshowab.

One thought on “Seputar BBM Bersubsidi

  1. Sya

    Kalau benar fatwa itu dikeluarkan, masyarakat tidak akan percaya lagi pada MUI. Semudah itukah menganggap haram suatu hal?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s