Nilai Nikmat

“Orang yang tidak mengetahui nilai nikmat ketika memperolehnya, ia akan mengetahuinya ketika nikmat itu sudah lepas darinya.”—Ibnu ‘Athaillah (Al-Hikam)

Ketika nikmat masih berada dalam genggaman, kita seringkali tidak menyadari bahwa sebenarnya kita tengah dilingkupi oleh berbagai kenikmatan. Kita tidak akan pernah menyadarinya sebelum nikmat itu hilang dari diri kita. Setelah nikmat itu hilang, barulah kemudian merasa menyesal karena tidak pernah mensyukurinya. Namun, saat nikmat itu masih ada, kita malah lupa untuk bersyukur. Inilah salah satu bentuk teguran dari Allah.

Kini kita hanya bisa melamun setelah kenikmatan itu hilang dan berandai-andai membayangkan sesuatu yang tak ada. Padahal, selama ini kita telah menyia-nyiakan kenikmatan itu. Kita menganggapnya tidak akan pernah hilang. Dan ketika nikmat itu hilang, barulah kini mencari-cari dan mempertanyakan.

Kesehatan menjadi terasa begitu berarti ketika kita sakit. Kelapangan menjadi berharga ketika dilanda kesempitan. Dan Seterusnya. Tulisan ini adalah bahan instrospeksi untuk diri saya sendiri, terutama instrospeksi untuk nikmat kesehatan. Meski “hanya” sariawan, tapi saya benar-benar merasakan bagaimana sehat itu nikmat. Makan tidak nyaman, melihat makanan tidak berselera, berbicara pun serasa tertahan. Hmmm, sehat itu memang kenikmatan yang luar biasa! Mari belajar bersyukur terus-menerus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s