Berorientasi Nilai atau Proses?

Masih mengenai masalah orientasi. Sewaktu disodorkan kuesioner mengenai kemampuan dasar mahasiswa di kelas, ada juga yang menjawab dengan perasaan sedikit khawatir, kalau-kalau kuesionernya itu berpengaruh pada nilai akhirnya. Padahal, ini sama sekali bukan urusan nilai. Kuesioner ini murni hanya ingin mengetahui sudah sejauh mana kemampuan dasar yang dimiliki mahasiswa tersebut. Saya jadi berpikir, “Apa “sindrom” ini akibat dari paham orientasi nilai?

Baiklah. Barangkali ini menjadi salah satu dari permasalahan pendidikan di Indonesia, yaitu orientasi belajar sudah mengarah pada nilai, bukan pada prosesnya. Dunia pendidikan kita pun sedang gencar-gencarnya mencanangkan pendidikan karakter. Pada implementasinya, sering dikaitkan dengan penekanan pada orientasi proses ketimbang hasil.

Nah, yang menjadi soal adalah apakah sistem di Indonesia sudah mendukung insan akademis untuk berorientasi proses? Sedangkan kita tahu bahwa nilai juga—mau tidak mau—menjadi syarat untuk melamar pekerjaan, melanjutkan sekolah, beasiswa, dll. Disinilah letak dilemanya. Ketika orientasi proses diagung-agungkan, tapi pada sisi lain justru nilai juga menjadi kebutuhan.

Dilema tersebut bertambah-tambah ketika pemahaman orientasi proses tidak diikuti oleh peningkatan kualitas dan perbaikan sistem. Pada Ujian Nasional (UN) misalnya, kita tahu bahwa syarat untuk melanjutkan sekolah adalah murni sebagian dari nilai UN dan sebagian lagi dari Ujian Sekolah. Jelas sekali ini memerlukan nilai yang cukup untuk masuk sekolah favorit. Lantas, masihkah kita dapat mempertahankan paham orientasi proses?

Bagaimana tidak, insan akademis akan lebih berorientasi nilai ketika nilai menentukan jenjang pendidikan berikutnya; IPK menjadi syarat melamar pekerjaan; dan semacamnya. Memang, nilai menjadi alat ukur. Tapi, apakah nilai itu menjadi mutlak? Belum tentu juga nilai merepresentasikan kemampuan siswa sebenarnya. Inilah dilemanya jika sudah tercebur ke dalam sistem. Sulit untuk melepaskan diri. Lantas, bagaimana solusinya? Entahlah, mungkin perlu install ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s