Didikan Turunan

Dari dua koran yang saya baca, ada dua headlines yang mengingatkan saya tentang masa-masa ospek ketika sekolah dulu. Koran yang pertama mengabarkan tentang ospek yang positif; dalam artian mendidik dan tidak menggunakan kekerasan. Ada lagi koran berikutnya mengabarkan tentang (masih) adanya tindak “kekerasan”. Kekerasan di sini masih dalam tahap yang wajar, hanya sekedar bentakan—tidak sampai memukul.

Memori ospek saya kembali muncul ketika saya melihat sedang ada diklat (pendidikan dan latihan) panitia PROKM di kampus. Ketika melihat para peserta sedang latihan baris-berbaris, atau praktik kegiatan lapangan, kadang-kadang juga mereka membuat yel-yel; saya tersenyum kecil sambil berkata dalam hati, “Dulu juga saya pernah mengalami ini.”

Ya, barangkali itulah sekilas tentang memori dan pengalaman saya menjalani ospek. Ospek yang memiliki stigma keras, kini berangsur-angsur sudah agak membaik, baik dalam praktiknya maupun materinya. Terlepas dari masih adanya segelintir orang (panitia) yang bersikap keras dan kasar. Saya menganggap bahwa ospek ini adalah kegiatan yang positif; saya merasakan sendiri pentingnya ospek ini adalah membangun semangat kebersamaan. Karena kita akan lebih merasa dekat setelah menjalani proses yang “senasib dan sepenanggungan”.

Kembali soal kekerasan dalam ospek. Saya menduga bahwa kekerasan dalam ospek adalah didikan turunan. Ya, kekerasan tersebut tidak dimunculkan oleh satu generasi saja, tapi turun temurun. Sewaktu saya menjalani ospek SMP dan SMA, saya merasakan betul tekanan yang diberikan oleh kakak-kakak kelas. Meskipun pada akhirnya saya tahu bahwa itu hanya sandiwara dan bentuk “pengondisian”.

Namun, ternyata didikan keras semacam itu bisa menurun. Apalagi setelah seseorang yang dulunya peserta ospek menjadi panitia ospek. Ketika jadi panitia, mulai ikut marah-marah, mulai ikut membentak-bentak. Ya, mereka ingin merasakan posisi ketika kakak kelas mereka menjadi panitia dan mereka ingin “mengujicoba” kepada peserta didik baru. Ini mungkin semacam “balas dendam”. Orang yang tertekan ternyata saya temukan juga mendidik dengan cara menekan. Ya semacam balas dendam itu tadi.

Meskipun tidak bisa kita pukul rata. Namun, apa hikmahnya? Ternyata apapun yang kita didikkan kepada adik-adik kita pasti akan ditiru. Setidaknya oleh satu-dua orang. Dan itu akan menciptakan multiplier effect sampai generasi-generasi berikutnya. Terus saja begitu, mengikuti pola yang telah diajarkan para pendahulunya. Sampai pola tersebut diubah total, baru kemudian rantai seperti itu bisa diputus. Dalam pendidikan dikenal istilah encouragement bukan tekanan, barangkali inilah yang sering dilupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s