Alun-alun dan Masjid Agung (Bag. 2)

Rasa kepenasaran tentang sejarah alun-alun dan Masjid Agung mengantarkan saya untuk membuka kembali buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara. Saya mencoba mengingat-ngingat kembali halaman yang menceritakan tentang sejarah pembangunan tata kota pada zaman kolonial Belanda. Ternyata benar! Sejarah itu memang ada. Saya buka halaman 226, subjudul “Wilayah Hunian Pribumi”.

Saya kutip kembali tulisannya. Begini.

Wilayah pribumi Islam ditandai dengan adanya kabupaten. Misalnya, untuk kota Bandung terletak di Jalan Dalem Kaum Bandung (sekarang rumah dinas Walikota), menghadap ke arah Gunung Tangkuban Perahu. Untuk keraton Jogjakarta menghadap ke arah Gunung Merbabu Merapi. Di depan kabupaten terdapat alun-alun. Di tengah alun-alun, terdapat pohon beringin sebagai simbol Syajaratul Thayibah. Di sebelah barat alun-alun terdapat masjid.

Pada masa penjajahan, di sebelah timur alun-alun terdapat bioskop. Berfungsi sebagai penggoda atau pencegah umat Islam agar tidak rajin berjamaah di masjid. Pada bulan Ramadhan, fungsi alun-alun diubah menjadi tempat pasar malam. Berbagai acara hiburan dan judi terdapat di dalamnya. Situasi sakral Ramadhan diubah menjadi sekuler.

Begitulah, dan seterusnya … Silakan Anda baca-baca kembali. Intinya, sistem perencanaan tata kota-kota di Indonesia banyak mendapat pengaruh dari pemerintah kolonial Belanda untuk melancarkan misinya di tanah air kita. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s