Menjadi Tour Guide Sehari

Hari Sabtu kemarin adalah jadwal field trip-nya para mahasiswa Jepang yang sedang berkunjung ke ITB, setelah hampir tiga hari mereka mengikuti kegiatan akademik. Pada awalnya, saya hanya mendampingi mereka di kelas saja. Sisanya, mereka didampingi oleh teman-teman panitia yang dibentuk dari himpunan-himpunan di FMIPA ITB. Tapi, saya merasa akan melewatkan kesempatan emas jika hanya berinteraksi di kelas saja, saya ingin berinteraksi lebih dengan mereka.

Ternyata, keinginan saya itu serasa dimudahkan. Pada hari Jumat sore, saya dihubungi Dio, dia adalah koordinator kelompok 2. Alhamdulillah, saya belum pulang sore itu. Saat saya sedang di BLCI untuk menanyakan informasi seputar kursus bahasa Jepang, saya dihubungi Dio untuk menjadi tour guide field trip ke Tangkuban Perahu dan Observatorium Bosscha. Langsung saja saya respon cepat! Kesempatan emas, bung!

Akhirnya, niat saya untuk pulang sore itu harus saya tunda sampai malam karena saya dan teman-teman kelompok harus mendampingi mahasiswa Jepang itu dulu untuk makan malam dan belanja. Dari asrama mahasiswa asing di Cisitu, kami mengajak mereka ke PVJ. Awalnya, kami ingin mengajak mereka ke Dago saja, tapi biar mereka melihat tempat-tempat baru juga di Bandung ini. Ya, malam itu kami gunakan sebagai ajang untuk berinteraksi lebih jauh lagi sambil belanja dan makan malam. And you know what? They are very love to eat Nasi Goreng and they aren’t accustomed to eat by hand. That’s the first lesson.

Hari sabtu, kami berangkat dari asrama mahasiswa asing Sangkuriang menuju ke Gunung Tangkuban Perahu. Ternyata, ada juga beberapa dari mereka yang tidak biasa dengan jalan berkelok. Mungkin, entah benar atau tidak, di Jepang sana sedikit sekali jalanan berkelok (seperti di daerah pegunungan). Beberapa dari mereka mengalami mabuk perjalanan. Tapi, itu bisa diatasi hingga kami sampai di tujuan pertama: Tangkuban Perahu. It was my second visit to Tangkuban Perahu.

Did you know? Why every we take their picture, their fingers always be like this: V (it means peace, isn’t it?)

Kendala yang cukup mengganggu diantara kami adalah kendala bahasa. Konon, lidah orang Jepang itu sulit sekali melafalkan kata-kata asing dan cadel. Sehingga ada vocabulary yang tidak tertangkap dengan baik. Dan mereka sulit sekali mengungkapkan maksud dengan bahasa Inggris, suaranya pun pelan. Jadi, setiap kali mengobrol, saya harus mendekatkan telinga saya ke wajah mereka. Solusinya, kita yang harus belajar bahasa mereka. Hmm, learning Japanese language is a must for those who will going to Japan. That’s the second lesson.

Ok, the first destination was finished. We are going to lunch at local restaurant. Setiap hendak memesan makanan, mereka bertanya dulu minta dijelaskan. Tapi, kadang suka langsung memesan jika dalam daftar menu tersebut terdapat gambar makanannya. Saya juga belajar bahasa Jepang dari mereka, seperti ittadakimasu setiap hendak makan. Dan ternyata, mereka makannya cukup banyak dan lahap, hehe.. Ya, kalau untuk urusan ini sih orang Indonesia juga begitu, Hai!

Tujuan selanjutnya adalah Observatorium Bosscha. Kami melihat video alam semesta, teropong terbesar, masuk ruangan surya, dan mendapat penjelasan/presentasi dari Bapak Hakim yang fasih sekali berbahasa Jepang. Menarik sekali bisa menguasai beberapa bahasa. Dan menurut saya, cara yang paling efektif adalah menetap di luar negeri. Istilahnya, learning by doing. Belajar terjun langsung ke lapangan. Insya Allah, someday … We’ll find the way.

 

Hari sudah sore menjelang malam, disertai hujan di penghujung kemarau. Agenda selanjutnya adalah menuju asrama lagi. Mereka pun sudah terlihat sangat lelah. Terlebih lagi panitia. Namun, saya sangat menikmati menjadi tour guide sehari ini. Banyak pelajaran yang saya dapat dari mereka; dari sikapnya, kelucuannya, keluguannya, bahasanya, adatnya, dan masih banyak lagi… There are too many lessons. Dan tentu saja, saya mendapat teman-teman baru: Daisuke, Shoko, Yuta, Hiromasa, Daichi, Kazu, Kazuma, Shoichi, …. I’m forget to remember the name, but I remember his/her face. We still have one week to know them more deeply.

 

Ok, see you on the next story …

@rizaldwiprayogo

3 thoughts on “Menjadi Tour Guide Sehari

  1. ajeng

    Entah kenapa, nasi goreng juga sangat terkenal d sendai. dan orang2 jepang itu mengenalnya sebagai ‘nasi goreng’ not ‘fried rice’😀, jadi sangat identik dgn Indonesia. Padahal nasi goreng juga ada banyak d negara lain juga.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s