Am I Fine?

Dalam pelajaran bahasa—khusunya bahasa asing, sejak jaman SD hingga SMA, selalu dimulai dari pembahasan kata salam dan perkenalan. Terkecuali untuk bahasa Jepang dan sejenisnya yang harus memperkenalkan jenis-jenis huruf terlebih dahulu. Setelah perkenalan huruf-huruf, baru kemudian dilanjutkan ke pembahasan kata salam dan perkenalan.

Saya baru sadar, ternyata selama ini pelajaran bahasa adalah sebuah template yang agak kaku. Saya bilang kaku karena kita seperti diharuskan untuk mengikuti template tersebut. Seperti menjawab kabar. Dari jaman saya SD sampai sekarang, template untuk menjawab kabar selalu dengan ucapan, “I’m fine, thank you. And you?”. Eventhough our condition is not fine. Tapi, itulah kiranya jawaban cepat untuk menghindari basa-basi yang terlalu lama.

Q : “Hi, how are you?”

A : “I’m fine, thank you. And you?”

Q : “I’m fine too. Thanks”

Beres sudah basa-basinya. Coba bayangkan kalau jawabannya, “I’m not fine today. I got a headache”. Apa template jawaban selanjutnya? Ini yang jarang dibahas di pelajaran-pelajaran bahasa: terlalu prosedural untuk suatu pembahasan yang fleksibel.

Begitu pun dalam pelajaran bahasa Jepang:

Q : おげんきですか。(Ogenki desuka—Apa kabar?)

A : はい、「おかげさまで」げんきです。(Hai, [okagesama de] genki desu—Ya, [berkat doa Anda] saya baik-baik saja.

Beres sudah basa-basinya. Bagaimana kalau jawabannya di luar prosedural? Saya menemukan gambar yang bagus tentang “I’m fine” ini. Sebuah gambar yang menyiratkan pemaksaan jawaban, karena mungkin kita pun telah dipaksakan oleh proses pembelajaran yang kaku.

foto diambil dari tautan berikut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s