Belajar dari Ibrahim

Masih dalam suasana Idul Adha, saya ingin mengucapkan selamat Idul Adha bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada. Idul Adha merupakan hari raya yang seharusnya lebih dimaknai ketimbang hari raya Idul Fitri. Karena perayaan Idul Adha sudah menyangkut pelaksanaan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji.

Bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, maka disyariatkan untuk tetap melaksanakan shaum Arafah, shalat Ied, dan berkurban. Inilah sebentuk “dukungan” bagi para jemaah haji. Berangkat dari kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran (Q.S Ash-Shaffat[37]: 99-113), kisah dan perjuangan mereka termanifestasikan dalam bentuk pelaksanaan rangkaian ibadah haji dan kurban.

Lalu, apa saja nilai-nilai yang bisa kita ambil dari kisah Ibrahim ini, yang kemudian Allah apresiasi dalam bentuk ibadah haji dan kurban (Idul Adha).

Cinta adalah Pengorbanan

Menurut saya, hal yang paling mendasar dari makna cinta adalah pengorbanan. Kita rela mengorbankan apa saja untuk sesuatu atau seseorang yang kita cintai. Namun, relakah kita mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam diri kita untuk Allah dan Rasul-Nya? Jika kita memang mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukti cinta tersebut dapat dilihat dari seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan.

Mengaku cinta tapi tidak rela berkorban sama saja bohong. Karena rasa cinta tersebut tidak termanifestasikan dalam perbuatan. Ujian yang menghampiri Nabi Ibrahim sungguh berat, Allah menyebut dalam Al-Quran sebagai ujian yang nyata: ujian yang sebenarnya (bukan main-main). Ditambah lagi, Nabi Ibrahim harus mengorbankan seseorang yang sangat ia cintai (Ismail). Inilah yang disebut pengorbanan sesungguhnya, dan disinilah makna cinta itu terlihat. Maka, cinta adalah tentang pengorbanan.

“Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Q.S 37: 105-106)

 

Demokrasi

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim—melalui mimpi—untuk menyembelih Ismail, kemudian Nabi Ibrahim masih membuka dirinya untuk menerima pendapat dari Ismail. Nabi Ibrahim menghargai posisi Ismail sebagai manusia yang memiliki hak untuk bersuara. Namun, masih dalam kesantunan. Inilah demokrasi sesungguhnya: bukan asal bersuara, tapi masih dalam ranah yang santun.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?

Lalu, yang diberi hak bersuara pun masih bisa berlaku santun kepada yang memberi kesempatan. Dan dibalasnya dengan santun oleh Ismail kepada Bapaknya,

“Ia menjawab: “Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S 37: 102).

Orang-orang memaknai demokrasi sebagai kebebasan. Namun, kebebasan itu sering disalah-artikan sehingga menjadi kebablasan. Baik atau buruk; benar atau salah; pantas dan layak, tidak bersumber kepada norma, tapi kepada suara terbanyak dan opini publik terhadapnya. Padahal, demokrasi bukan tentang esensi, tapi lebih kepada cara. Esensinya tetap bersumber kepada norma dan hukum yang ada (Al-Quran dan Sunah).

 

Siapa yang bersabar akan beruntung

Saya ambil kata-kata ini dari motto Bang Ahmad Fuadi—man shabara zhafira. Ya, sabar bukan berarti pasrah menerima keadaan lalu tidak melakukan apa-apa. Sabar adalah bertahan untuk tetap konsisten pada jalan yang benar. Sabar adalah bertahan untuk tidak menyerah. Sabar yang proaktif. Nabi Ibrahim telah membuktikan kesabarannya itu, melalui sikap “bertahan”-nya untuk tetap patuh pada perintah Allah.

Bagi manusia biasa, siapa yang bisa “bertahan” ketika diberi ujian seberat Nabi Ibrahim, yaitu mengorbankan seseorang yang telah lama dinanti-nantikan kehadirannya—Ismail. Dan nabi Ibrahim telah membuktikannya. Kemudian Allah anugrahkan keberuntungan-keberuntungan itu pada Nabi Ibrahim dan Ismail.

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (Q.S 37: 107-111).

Lihatlah hari ini, ibadah haji dan kurban yang dirayakan oleh seluruh kaum muslimin setiap tahun adalah sebentuk apresiasi yang Allah berikan atas perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Sebentuk apresiasi dari kesabaran untuk tetap patuh pada perintah Allah. Allah tampakkan keberuntungan itu, keberuntungan yang merupakan buah dari kesabaran. Siapa yang bersabar akan beruntung.

Semoga kita semua bisa memaknai makna dari Idul Adha ini dan mau serta mampu mengejawantahkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

One thought on “Belajar dari Ibrahim

  1. Pingback: Hikmah Dibalik Ketaatan dan Perintah Allah SWT | coretan sayyidahqurani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s