Banyak Berbuat, Banyak Memberi

Saya sangat meyakini bahwa orang yang berbuat lebih banyak, maka ia pun bias member lebih banyak di atas rata-rata kebanyakan orang. Buktinya adalah para pahlawan nasional kita.Mereka berbuat lebih banyak di atas rata-rata orang lain untuk membela hak-hak negaranya yang terjajah, sehingga mereka bias memberikan sesuatu yang luar biasa pula bagi negaranya, yaitu kemerdekaan. Dan orang yang banyak berbuat kebaikan selalu menjadi buah tutur kata yang baik bagi generasi pelanjutnya.

Ketika kita ingin memberikan sesuatu, tentu saja kita harus memiliki “sesuatu” itu. Dan “sesuatu” itu harus kita raih dulu baru kemudian kita berikan. Semakin banyak yang kita punya, tentu akan semakin banyak yang bisa kita berikan. Kalau kita tidak punya apa-apa, lantas apa yang akan kitaberikan? “Sesuatu” itu bisa kita raih dengan berbuat lebih banyak di atas rata-rata. Sesuatu banget ya …

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya banyak di sekeliling kita orang yang banyak berbuat sehingga ia bisa banyak memberi.  Contohnya, orang yang mengajarkan ilmu.Orang yang mengajar tentu saja harus memiliki ilmunya dulu dan sudah mengamalkannya. Ini artinya, ia telah banyak berbuat, yaitu belajar keras dan mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari. Baru kemudian ia bisa memberikan ilmunya itu kepada orang lain.

Beda halnya dengan orang yang jarang belajar, ia tidak banyak berbuat, lanta sapa yang bisa ia berikan? Sekedar teori saja mungkin bisa, tapi ia tidak akan mendapatkan respek dari orang yang diajarkannya. Karena perkataannya tidak cocok dengan perbuatannya. Maka, orang yang tidak banyak berbuat, hanya sedikit yang bisa iaberikan.

Hidup itu berbuat

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadakamu apa yang telah kamu kerjakan. “ (Q.S At-Taubah[9]: 105)

Kita diperintahkan untuk bekerja. Ini artinya kita harus melakukan sesuatu (berbuat), baik untuk kepentingan diri kita sendiri maupun untuk lingkungan kita. Dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kita. Maksudnya adalah orang-orang akan lebih merasa respek kepada seseorang yang selalu bekerja keras atau berbuat sesuatu.

Dalam keseharian kita misalnya, kitaakanmenaruhhormatkepadapublikfigur yang sukses. Ini sebagai rasa respek kita kepadanya. Dan ini juga merupakan janji Allah bahwa Dia akan “memberitakan” apa yang telah dikerjakan. Jika pekerjaan itu baik, maka Allah akan memberitakan kebaikan baginya. Allah jadikan kesuksesannya sebagai inspirasi bagi orang-orang sekelilingnya. Sebaliknya, Allah akan memberitakan keburukan baginya.

Sebenarnya, saya iri sekali dengan para pemangku jabatan yang amanah. Ia sukses memimpin organisasi atau bawahannya, dan ia menjadi inspirasi bagi orang di sekelilingnya. Ia telah banyak berbuat bagi lingkungannya, maka ia pun bisa memberi lebih banyak. Ia bisa berbagi ilmu, pengalaman, kisah, hingga tips-tips yang bisa menjadi inpirasi dan menggerakkan orang-orang untuk melakukan kebaikan yang sama, bahkan lebih.

Dan tentu saja, orang yang banyak berbuat (kebaikan), ia juga memiliki tabungan kebaikan yang banyak. Ketika kebaikan itu telah menjadi inspirasi bagi orang lain, dan orang-orang terinspirasi untuk melakukan kebaikan yang sama, maka sang inspirator sudah berinvestasi kebaikan.

Hidup itu memberi

Guru saya menasihati bahwa jangan merasa keenakan ketika kita lebih banyak menerima daripada memberi. Orang yang lebih senang menerima, lama-kelamaan derajat (wibawa)-nya akan menurun dan akan merasa ewuh-pakewuh (sungkan) terhadap yang memberi. Akibatnya, orang yang menerima selalu merasa memiliki hutangbudi kepada sang pemberi dan akan menjadi “budak”-nya.

Sebagai contoh, Mesir selalu menerima bantuan dari Amerika. Mesir sebagai penerima, Amerika sebagai pemberi. Mesir tidak memiliki kebebasan untuk berbuat ketika Palestina diserang Israel (Amerikasebagaibacking). Ini karena Mesir tertawan kebebasannya untuk berbuat karena senang menerima dari Amerika. Mesir memiliki hutang budi kepada Amerika. Wibawa Mesir menurun karena senang menerima. Sejarah juga mencatat bahwa negara yang disegani dandihormati adalah negara yang mandiri, tidak senang menerima.

Begitulah jika orang lebih senang menerima ketimbang memberi. Tapi, jangan salah-artikan bahwa kita tidak boleh menerima hadiah, karena Rasulullah saw pun senang menerima hadiah. Tekadkan dalam diri kita masing-masing untuk bisa membalas kebaikan siapa pun kepada kita. Minimal dengandoa.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”(Q.S An-Nisa[4]: 86)

Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Orang yang membiasakan tangannya di atas akan selalu menjadi buah tutur kata yang baik. Dan sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang paling berpengaruh di dunia ini adalah orang-orang yang banyak memberi. Contoh yang paling agung adalah Rasulullah saw. Meskipun sudah berjarak abad lamanya, tapi namanya tetap harum sebagai manusia yang dermawan.

Mahatma Gandhi, Bill Gates, Steve Jobs adalah diantara orang-orang yang banyak memberi. Namanya tetap menjadi buah tutur kata yang baik hingga hari ini. Sejarah menorehkan tinta emas bagi orang-orang yang gemar memberi, bukan menerima.

Mari kita tekadkan dalam diri kita untuk banyak berbuat agar bisa banyak memberi. Kita usahakan untuk mengambil peran dalam hal yang positif dan manfaat. Berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Jangan segan-segan bermimpi untuk bisa berbagi lebih banyak, jangan sampai hanya bermimpi saja kita pelit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s