Kesenjangan e-Learning

Saya tertarik dengan istilah “Internet untuk Rakyat”. Seolah-olah, kini internet telah menjadi hak setiap warga negara. Karena memang, akses internet kini begitu mudah didapat. Ditambah lagi dengan makin maraknya teknologi mobile yang sudah terintegrasi dengan internet. Bisa dibayangkan pada suatu waktu di masa mendatang, internet benar-benar sudah merakyat—seperti istilah di atas.

Penggunaan internet yang massive tersebut ternyata mengilhami dunia pendidikan untuk mewujudkan konsep e-Learning, atau pembelajaran elektronik (internet). Karena dirasa bisa membantu proses pendidikan, mulai dari eksplorasi wawasan hingga alat bantu ajar. Seperti yang sudah diterapkan di kampus-kampus, seperti blendedlearning. Namun, pemanfaatan internet tersebut masih hanya sebatas untuk mempermudah aksesibilitas saja, belum dibarengi dengan inovasi pada teori dan teknik pendidikannya itu sendiri.

Yang terjadi sekarang hanyalah “pemindahan” materi kuliah menjadi materi kuliah online. Belum ada inovasi pada isi dan bentuknya. Itu hanya seperti memindahkan catatan di buku tulis ke berkas elektronik saja. Memang, hal ini juga dirasa sebagai kemajuan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Namun, tetap dibutuhkan inovasi yang tidak hanya sekedar mengubah wujud fisiknya saja, tapi juga secara konseptualnya.

Digitalisasi materi ajar adalah salah satu langkah menuju pemberdayaan internet dalam dunia pendidikan. Hal yang paling mendasar adalah konstektualitasnya. Hal ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Hadirnya kemudahan internet dalam dunia pendidikan intinya adalah sebagai alat. Semuanya harus dikembalikan ke konteks asal pendidikan.

Kesenjangan e-learning ini begitu terasa ketika sudah diterapkan di lapangan. Karena budaya e-learning itu berbeda dengan budaya belajar-mengajar di kelas. Maklum, budaya belajar-mengajar di kelas erat kaitannya dengan budaya lihat dan dengar. Guru mengajar di depan kelas, sedangkan murid mendengarkan—mungkin juga ada yang mencatat. Guru seperti mengajar dengan mendongengkan. Itulah kenapa anak-anak dahulu akrab dengan cerita dongeng, karena memang budaya yang berkembang adalah budaya lihat dan dengar.

Sedangkan internet adalah budaya baca dan tulis. Maka, terjadilah kesenjangan di sini. Budaya lihat dan dengar dengan segera akan digantikan dengan budaya baca dan tulis. Sedangkan murid belum terbiasa dengan budaya baru ini—baca tulis, bisa dilihat dari rendahnya minat baca. Malahan, anak-anak sekarang lebih senang menghabiskan waktunya di depan televisi ketimbang membaca, karena memang budaya yang berkembang adalah budaya lihat dengar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s