[Buku] Garis Batas: Perjalanan di Asia Tengah

Saya percaya bahwa perjalanan akan memberikan pembelajaran. Setidaknya bagi mereka yang menganggap perjalanan tidak sekedar melihat tempat-tempat baru dan menambah koleksi tempat yang sudah dikunjungi. Backpacking atau menjadi backpacker adalah identitas yang ingin disematkan ke semua pelaku perjalanan. Tapi, bagi penulis buku ini—Agustinus Wibowo, backpacking adalah proses pembelajaran, bukanlah sekedar mengunjungi tempat-tempat baru hanya demi mengatakan, “I have been there. I have done it”.

Itulah alasan saya memilih buku ini. Selain karena memang saya suka dengan perjalanan dan geografi, buku ini juga bukanlah buku perjalanan biasa. Jika kebanyakan buku traveling lebih banyak mengumbar tempat-tempat bak surga dan dapat dijangkau dengan biaya paling murah, seperti “Keliling Eropa hanya dengan 5 juta”, atau buku-buku sejenisnya … Buku ini memberikan pembelajaran yang lain.

Garis Batas. Kata kunci itu memang menjadi dasar pemikiran dari buku ini. Betapa garis batas antar negara bisa menjadi pembeda. Jika dalam peta, kita melihat garis batas hanya sebagai garis merah tebal. Namun, siapa sangka di baliknya ada politik, peperangan, penjajahan, ragam etnis, dan pembeda lainnya. Siapa sangka garis batas itu menentukan peradaban suatu bangsa tertentu. Dan menunjukkan eksistensi negara tersebut.

Perjalanan diawali dari Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan berakhir di Turkmenistan. Negeri-negeri berakhiran -stan di Asia Tengah. Garis batas memang menunjukkan daerah teritorial dan wewenang suatu bangsa. Betapa jauhnya perbedaan antara Afganistan dan Tajikistan, hanya dipisahkan oleh sungai selebar sepuluh meter sebagai garis batasnya. Begitu juga negeri-negeri lainnya.

Dan yang lebih unik lagi, diceritakan bahwa perbatasan negara antara Uzbekistan dan Kirgistan terletak  pada sebuah kampung, terdapat rumah yang dapurnya berada di Kirgistan dan kamarnya berada di Uzbekistan. Jika orang Indonesia berkhayal untuk bisa ke luar negeri, maka penduduk Uzbekistan bisa ke luar negeri setiap saat. Begitulah garis batas mewarnai kehidupan manusia dan menjadi pembeda.

Jangan jauh-jauh, coba kita amati saja negeri kita. Betapa garis batas kota dan provinsi menjadi pembeda yang mencolok. Garis batas itu menentukan kewenangan pemerintahannya. Ini daerahku, itu daerahmu. Urus saja daerahmu, aku urus daerahku. Itu termasuk kewenangannmu, ini wilayahku masuk kewenanganku. Apalagi ketika garis batas negara kita dimasuki Malaysia, betapa mencak-mencaknya negara kita. Hanya untuk ego “ini wilayahku! Pergi sana!”. Betapa garis batas bisa menjadi pembeda: ideologi, mata uang, bahasa, hukum, etnis, dsb …

Bagi Anda seorang backpacker atau traveler writer, buku ini sebaiknya Anda baca. Agar perjalanan Anda tidak hanya sekedar mengejar sensasi “I have been there or I have done it, where will we go next?” Agar kita juga dapat membaca dan merenungkan arti perjalanan … Atau menjadikan backpacking bukan semata-mata seperti piknik liburan tanpa makna.

One thought on “[Buku] Garis Batas: Perjalanan di Asia Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s