Kefuturan

Melihat status teman saya di FB, saya mendapat teguran dan nasihat tentang kefuturan, yakni gejala-gejala penurunan iman. Status tersebut ditulis seperti ini:

Musik dan Al Qur’an tidak akan berjumpa dalam keasyikan yang sama. Orang yang asik dengan musik, tidak akan mampu menyerap keindahan Al Qur’an. Orang yang mudah menikmati keindahan Al Qur’an, pasti akan gerah mendengar lantunan music. Saat keasyikan mendengar salah satunya berkurang, bertambahlah kesenangan mendengarkan yang lain. (Ibnu Taimiyah)

Gejala futur memang sulit dideteksi, apalagi ketika kita berada dalam rutinitas yang ketat. Semua serba kaku sehingga kita pun sulit mengatur jadwal ibadah harian kita. Ibadah wajib memang tidak terlewatkan, tapi malah berkurang kualitasnya. Baik dari ke-khusyuan-nya, maupun dari keutamaannya.

Status FB di atas hanyalah untuk urusan membaca Al-Quran. Tanpa sadar, kita justru malah lebih senang mendengarkan musik ketimbang mendengarkan Al-Quran. Gejalan futur terjadi pada diri kita, awalnya hanyalah sebuah pembenaran, tapi lama-kelamaan malah menjadi kebiasaan. Akhirnya malah terbiasa dengan kefuturan itu.

Akan lebih parah lagi jika kita berada dalam sistem yang buruk; tidak ada teman yang mengingatkan, tidak ada kekompakan. Alhasil, kita malah terbiasa dengan kefuturan tersebut. Lama-kelamaan, kebiasaan baik yang asalnya membiasakan sunah malah terlewat begitu saja. Ini introspeksi besar-besaran untuk saya. Astaghfirullah, mari berbenah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s