Keseimbangan yang Menjadikannya Harmonis

Jika dilihat secara makroskopik, alam semesta ini diciptakan berdasarkan prinsip keseimbangan. Ada siang, ada malam; ada panas, ada hujan; ada dingin, ada panas; dan seterusnya. Prinsipnya, segala sesuatu yang berjalan secara seimbang, pasti akan menjadi harmonis. Sebaliknya, akan menjadi rusak; sesuatu yang tidak berjalan harmonis, pasti telah terjadi ketidak-seimbangan. Bahkan, sains pun telah membuktikan prinsip keseimbangan ini. Dan, dalam Al-Quran pun, keseimbangan itu diungkapkan.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Q.S Al-Mulk[67]: 3-4)

Secara fitrahnya, setiap makhluk berada dalam prinsip keseimbangan, sehingga jiwa-jiwa manusia itu amat merindukan keharmonisan dan ketenangan. Namun, kadang manusia pula yang merusak sistem keseimbangan itu; dari nafsu yang tidak pernah puas. Sesuatu yang berada dalam keadaan proporsional, menjadi di luar batas karena nafsu manusia. Dan itu merusak sistem keseimbangan.

Sekarang, mari kita perhatikan fenomena alam. Misalnya pada pembentukan Ozon, betapa seimbangnya reaksi yang terjadi antara oksigen dan ultraviolet sehingga membentuk Ozon. Begitu seterusnya. Selalu dalam keadaan seimbang. Hingga muncullah perusak keseimbangan, yaitu CFC yang mereduksi Ozon secara perlahan. Awalnya seimbang, menjadi tidak seimbang. Awalnya harmonis, menjadi tidak harmonis.

Begitupun dengan manusia. Setiap kali manusia berbuat keburukan, itu akan merusak sistem keseimbangan. Maka, manusia merasa gelisah, takut, dan tidak nyaman karena sistem keseimbangan dalam fitrahnya terusik. Semakin banyak keburukan yang dilakukan, semakin terusik ketenangan batinnya. Untuk mengembalikan  keseimbangan tersebut, manusia diperkenalkan dengan konsep bertaubat. Taubat artinya kembali. Taubat akan mengembalikan sistem keseimbangan fitrah manusia; menjadi manusia yang bersih.

Namun, ada prinsip keseimbangan yang Allah ciptakan untuk kehidupan manusia; ada susah, ada senang; ada kaya, ada miskin; ada sukses, ada gagal; ada kelapangan, ada kesempitan; ada sakit, ada sehat; dan seterusnya. Prinsip keseimbangan yang ini bukan wewenang manusia, tapi justru menciptakan dinamisasi yang seimbang. Allah ciptakan dinamisasi ini untuk menjaga keseimbangan, bukan untuk merusaknya.

Seperti yang diungkapkan dalam Al-Quran surat Ar-Rahman[55]: 7-9

Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.

Allah ciptakan kehidupan ini secara seimbang. Dan kita diperintahkan untuk hidup secara seimbang, yaitu hidup dengan mengikuti aturan. Melanggar aturan artinya merusak keseimbangan. Merusak keseimbangan artinya merusak keteraturan. Merusak keteraturan artinya merusak keharmonisan. Dan itu bertentangan dengan sunnatullah.

Kehidupan juga sebenarnya adalah siklus keseimbangan yang makro. Ada orang yang butuh uang, ada orang yang butuh tenaga. Klop! Ada orang yang ingin makan, ada orang yang membuka restoran. Klop! Ada orang yang perlu nafkah, ada perusahaan yang butuh pegawai. Klop! Ada uang, ada barang. Klop! Nggak ada uang, abang ditendang, hehe… Dinamisasi yang seimbang. Ibarat simbiosis mutualisme, sama-sama saling membutuhkan. Subhanallah, betapa seimbangnya.

Dan saya yakin bahwa di alam semesta dan di kehidupan ini, segala sesuatunya saling berkaitan satu sama lain. Segala sesuatu yang terjadi di alam ini, bisa diumpamakan dalam kehidupan sehari-hari; filosofinya, pelajarannya, dan sebagainya. Karena memang itulah keseimbangan. Keseimbangan yang menjadikannya harmonis. Itulah ayat Kauniyah yang ingin Allah tunjukkan kepada makhluknya yang berpikir. Dan jika pada suatu saat, kehidupan di bumi ini begitu ruwetnya, maka itu tandanya kehidupan kita telah jauh dari keseimbangan. Mari bertaubat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s