(Belum) Percaya Produk Lokal

CAFTA memang telah diberlakukan sejak Januari 2010 silam. Ini artinya era perdagangan bebas telah dimulai. Dan ini berarti pula persaingan produk dibuka lebar-lebar. Okelah, kita sering menggaungkan slogan “Cintai produk-produk Indonesia” yang intinya adalah untuk meningkatkan daya jual produk lokal. Tapi slogan itu selalu menjadi antitesis ketika produk-produk made in China malah membanjiri pasar.

Bahkan untuk mainan anak sekalipun. Sejak saya masih usia bermain (dan lucu-lucunya…), saya tidak mengerti apa maksud dari made in China yang tertera di bagian bawah mainan tersebut. Sering saya mengejanya dalam bahasa Indonesa: ma – de – in – chi – na. Baru kemudian saya tahu artinya—dari ibu saya, bahwa itu artinya dibuat di China. Belum paham apa itu ekspor – impor.

Dan kini, produk-produk China semakin membanjiri pasar. Mulai dari segmen barang primer sampai tersier sekalipun. Indonesia tidak tinggal diam, belakangan ini mulai terdengar produk-produk buatan asli Indonesia. Tapi saya tidak tahu untuk barang elektronik, apakah asli ataukah hanya merakit saja. Tapi, klaim-nya adalah itu buatan Indonesia.

Kita pun pernah mendapat angin segar ketika industri otomotif sedang bergeliat; mobil Timor dan produk kendaraan bis dan truk yang dibuat oleh PT. Texmaco setidaknya telah menunjukkan produk asli buatan Indonesia. Saya pun tidak tahu apakah itu asli atau hanya bagian merakit saja. Dan kini, angin segar itu terdengar lagi ketika para siswa SMK berhasil membuat mobil—yang katanya—asli buatan Indonesia.

Saya setuju dengan pendapat umum bahwa produk-produk lokal harus mendapat dukungan yang serius, baik itu dari promosi, bahan baku, finansial, dan sumber daya. Namun, dukungan tidak akan menjadi berarti jika tidak ada pasar yang membeli. Katakanlah kita telah berhasil membuat alat elektronik buatan asli Indonesia, tapi jika di pasaran tidak diminati bahkan oleh orang lokal sekalipun? Barang-barang itu tidak akan dikembangkan lagi.

Sama halnya ketika kita menjargonkan “cintai produk Indonesia”, tapi malah belanja produk luar negeri. Terlebih lagi untuk barang elektronik dan mesin. Yang saya amati, kita (orang Indonesia) belum begitu percaya dengan produk lokal (elektronik dan mesin). Kita masih mengandalkan produk Jepang dan Eropa. Jujur saya juga begitu, kalau untuk barang elektronik dan mesin, memang saya lebih percaya produk luar.  Istilahnya, tidak mau coba-coba untuk barang mahal. Kalau untuk barang non-elektronik, oke saya setuju untuk memilih produk Indonesia.

Dan yang juga disayangkan adalah ternyata para produsen lokal juga belum begitu percaya diri untuk mengambil nama lokal pada produknya. Yang ada malah mengadopsi nama-nama berbahasa asing  (supaya terlihat keren?). Saya tidak setuju dengan alasan supaya go international, menurut saya itu hanya angan-angan saja. Khawatirnya, sudah memakai nama asing, eh, ternyata go international pun tidak. Rugi dua kali. Produk dalam negeri pakailah produk dalam negeri, supaya terlihat karakternya.

Hampir saja kita mengira bahwa Polygon, Polytron, Byon, Bodypack, Hoka-hoka Bento, J-co Donuts & Coffee… itu adalah produk luar. Siapa sangka ternyata asli Indonesia. Dan siapa sangka juga kalau kita memang lebih percaya dengan produk berbau “asing”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s