Mimpi untuk Orang Lain

Menyambung tulisan sahabat saya, Yuma, tentang penguatan visi atas mimpi-mimpi kita, saya pun memiliki pandangan yang serupa. Bahwasannya dalam mengejar mimpi kita masing-masing, visi itu harus ditaruh di garda terdepan yang berfungsi sebagai arah. Visi ini juga yang nanti akan menjawab pertanyaan batin, “Mau kemana saya?”

Mimpi memang identik dengan idealisme. Apalagi bagi seorang pemuda; pasti banyak mimpi di kepalanya yang ingin dia buat menjadi konkrit. Saya pun seperti itu, banyak ini-itu yang ingin saya realisasikan, segera! Tapi ternyata banyak pula realitas yang saling berbenturan dengan mimpi-mimpi itu. Lambat laun, mimpi-mimpi besar itu terkikis pelan-pelan.

Setelah terjun ke lapangan, kita akan merasa begitu banyak realita yang ternyata tidak kita harapkan. Tapi, sering juga seseorang yang mencoba realistis itu malah jadi mengorbankan mimpinya. Mencoba realistis, tapi bukan berarti kita tidak boleh punya mimpi. Jika tidak punya mimpi, kasarnya, mau apa hidup ini? Hanya akan menjadi pengikut sistem saja. Orang yang punya mimpi saja bisa menggalau, apalagi yang tidak punya mimpi sama sekali.

Saat saya akan mengambil S2 pun begitu, dari dalam diri saya timbul pertanyaan, “Apa benar saya ingin berkarir menjadi akademisi?” Pertanyaan itu sempat membuat saya “galau”. Apakah cita-cita saya ini benar-benar menggambarkan diri saya? Apa benar saya pantas dan layak untuk itu? Sebelumnya, saya pun pernah merenung, “Apa kalau ingin menjadi akademisi itu harus pintar?” Saya merasa kemampuan saya tidak istimewa. Pertimbangan itu sempat membuat saya ragu.

Ada juga pertimbangan lain yang membuat saya menggalau. Termasuk soal niat dan visi tadi. Benarkah niat saya sudah lurus? Benarkah visi saya sudah terpancang kuat? Atau hanya ingin mengejar kesenangan jangka pendek? Keputusan harus segera diambil. Insya Allah, jika niat dan kemauan sudah benar, maka terbukalah jalan.

Dan dalam kondisi “persimpangan” seperti itu, saya sempat menuliskan “curhat” yang saya tulis di catatan pribadi saya. Saya ingat betul, curhat ini saya tulis saat akan memproses kelanjutan S2 saya, saat sedang sendirian. Bunyinya seperti ini: “Ya Allah, tunjukilah padaku jalan-jalan-Mu yang akan semakin mendekatkan diri hamba kepada-Mu. Ya Allah, bukakanlah jalan ikhtiar terbaik hamba, bukakan apapun yang akan mendekatkan hamba kepada-Mu. Engkau Maha Tahu, aku tidak tahu…”. Dan kini, saya sedang menjalani apa yang dulu pernah saya galaukan.

Jangan Egois Bermimpi Sendiri

Ya, jangan egois. Saya menyadari betul, apa yang menjadi mimpi-mimpi saya selama ini hanyalah untuk diri saya sendiri: Lulus S1, melanjutkan S2, nikah, lalu ambil S3, melancong ke luar negeri, hingga menjadi professor. Lalu, dimana letak keluarga? Masyarakat? Negerimu? Apa tidak punya mimpi untuk keluargamu? Apa tidak ada visi untuk memberi kontribusi bagi negerimu? Jangan egois bermimpi sendiri.

Apa tidak pernah terpikir untuk membangun sebuah yayasan sosial? Apa tidak pernah terbayangkan untuk membangun sekolah gratis? Apa tidak ada masyarakat dalam mimpi-mimpimu? Supaya mimpi-mimpi kita itu tidak melulu urusan pencapaian duniawi, tapi juga mengandung unsur berbagi dan kebermanfaatan.

Bahkan seorang mukmin itu harus punya visi yang panjang sampai kehidupan akhirat. Dunia sebagai kendaraan untuk memuluskan visinya di akhirat kelak. Kendaraan itu bisa berwujud profesi, pekerjaan, posisi dalam masyarakat, jabatan, status, dll. Masihkan kita bermimpi untuk diri kita sendiri? Ini menjadi introspeksi bagi saya untuk merevisi lagi mimpi-mimpi saya. Re-visi: memperbaiki niat atas visi.

Justru dengan berbagi, kehidupan kita akan lebih bermakna. Mari kita sama-sama ajak keluarga, masyarakat, dan negeri kita masuk dalam mimpi-mimpi kita. Agar mimpi-mimpi kita tidak melulu dipenuhi dengan hal-hal yang berbau duniawi. Agar kita juga kembali kepada definisi sukses ala Rasulullah saw, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s