Bertahap dalam Mencari Ilmu

Kita itu cenderung lebih antusias (terburu-buru) untuk mendapat ilmu baru ketimbang memperdalam ilmu yang sedang dipelajari. Sekilas nampaknya baik, karena ingin selalu belajar hal-hal baru. Tapi, ternyata itu tidak efektif untuk pemahaman, apalagi untuk pengamalan. Kadang ini juga terjadi pada saya, inginnya mendapat ilmu sebanyak-banyaknya untuk diamalkan sebanyak-banyaknya juga. Tapi, kenyataannya tidak pernah seluruhnya teramalkan, hanya sebagian saja.

Alasan terbesar adalah karena lupa ilmunya. Ini terjadi karena tidak fokus memperdalam satu ilmu dulu, baru kemudian amalkan pelan-pelan. Jika sudah terkuasai, baru memburu ilmu lain dan mengamalkannya juga secara pelan-pelan. Saya pernah membaca cerita serupa tentang prioritas untuk memperdalam ilmu, baru kemudian amalkan pelan-pelan. Cerita itu kurang lebih bertutur seperti ini.

Pada suatu majelis, ustadz mengajarkan tafsir surat Al-Ashr (misalnya) pada hari pertama. Kemudian, majelis itu dilanjutkan pada hari kedua dan masih membahas hal yang sama. Hari ketiga juga demikian, hingga berkatalah salah satu anggota majelis tersebut,” Ustadz, mengapa kita terus mempelajari tafsir surat Al-Ashr? Bukankah sudah dibahas sejak kemarin-kemarin.” Lalu, ustadz pun menjawab, “Apakah kau sudah mengamalkan apa yang tercantum dalam surat Al-Ashr ini?”

Belum”, jawab anggota majelis. “Untuk itulah kita perdalam ilmu ini, agar bisa diamalkan. Ketimbang mempelajari hal yang lain tapi tidak pernah mengamalkan.” Lanjut sang ustadz.

Anda tentu pernah menyimak acara-acara motivasi di televisi, yang bahkan tayang setiap seminggu atau setiap hari sekali dengan bahasan yang berbeda-beda. Sekarang masalahnya, berapa persen kata-kata mutiara itu yang sudah kita amalkan? Atau paling tidak, spirit apa yang membekas dalam diri kita? Atau malah lupa dengan apa yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya? Pada awalnya mungkin kita tergugah oleh isi motivasinya, tapi seberapa lama itu akan menjadi spirit?

Terlalu banyak informasi yang masuk, tidak sebanding dengan kemampuan kita menerimanya. Akibatnya, yang benar-benar membekas hanya sedikit saja. Padahal, pembelajaran itu akan lebih efektif jika dilakukan secara pelan-pelan hingga membekas. Dua kunci menuntut ilmu, seperti kata guru SMA saya, adalah mau mencoba dan sabar. Sabar ini yang sering kita abaikan. Sabar dalam pengamalan.

Sekarang mari kita bandingkan dengan majelis ilmu yang melakukan pembahasan secara bertahap. Setiap bahasan dibuat berseri. Memang, kesannya terlalu berputar-putar dan membahas yang itu-itu saja. Tapi, justru dari situ kita jadi paham dan membekas. Spirit-nya juga kita dapat. Pahami pelan-pelan, kemudian amalkan juga pelan-pelan hingga istiqomah. Metode pembelajaran seperti ini akan lebih efektif, meski memang kita tidak pernah bisa 100% paham. Mau mencoba dan sabar, sabar dalam menuntut ilmu dan sabar dalam pengamalannya. Tahap demi tahap.

One thought on “Bertahap dalam Mencari Ilmu

  1. Hendra Galus

    Stuju mas…
    sama seperti kalau kita menggali sumur, dimana tujuannya adalah mendapat air. selama airnya belum ketemu, terus saja digali. kalau kita padahal masih dangkal, kita tidak pernah menemukan airnya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s