Ketergantungan Terhadap Teknologi

Saya habis menonton acara “Electrical Dreams: The 1990’s”, yang bercerita tentang perkembangan teknologi setelah era 1990-an. Yang dilihat adalah pengaruh dari kemajuan teknologi tersebut terhadap perilaku penggunanya, dalam rentang tahun 1990-2000-an. Riset tersebut diujicobakan kepada satu keluarga yang memang memiliki ketergantungan terhadap teknologi.

Pada awalnya, kondisi keluarga tersebut diputar-balikkan ke kondisi seperti di era 90-an, yang mana perangkat teknologi masih terbatas. Tentu saja terjadi “keterkejutan” di sini, dimana kondisi pada zona nyaman telah berubah sama sekali. Terjadi banyak penyesuaian dan mencoba untuk mengakrabi zona yang baru. Dan wajar, pasti selalu terjadi “pemberontakan” atas perubahan yang terjadi.

Teknologi memang terasa begitu cepat berubah, dalam dekade 10 tahun saja sudah banyak evolusi yang terjadi. Dan secara tidak sadar, ternyata memang itu berdampak pada perilaku penggunanya, seperti lebih senang asik sendiri dan anti-sosial. Pada contoh kasus keluarga tersebut, awalnya—ketika era millennium, memang diceritakan bahwa masing-masing anggota keluarga jarang sekali berkomunikasi secara langsung, karena mereka sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Bahkan, di meja makan pun mereka masih asik dengan dunia di luar sana.

Dan ketika diputar-balikkan ke era 90-an—bahkan semua setting-nya diatur sedemikian persisnya dengan era  90, yaitu ketika komputer masih menggunakan perintah DOS, disket besar dan ukuran kecil; radio tape yang masih menggunakan kaset; TV hitam putih dengan 6 channel, dsb, justru komunikasi di antara anggota keluarga mulai berjalan. Karena perangkat teknologi yang ada belum bisa memanjakan penggunanya, beda dengan kondisi hari ini.

Kemajuan teknologi memang akan memudahkan urusan manusia, tapi lama-kelamaan akan menjadi ketergantungan. Orang jadi selalu mengandalkan gadget-nya. Contoh kecil saja, kita nampaknya akan lebih memilih untuk ketinggalan dompet daripada ketinggalan smartphone, iya kan? Bahkan, laptop selalu menjadi bagian dari isi tas kita. Kita sudah menjadi generasi digital.

Para generasi digital hidup dalam paradigma ‘jauh tapi dekat, dekat tapi jauh’. Dengan teknologi itu, jarak sudah mati karena semua orang terhubung seketika. Tetapi mereka yang ada di depan mata menjadi jauh saat kita terlalu asyik dengan gadget masing-masing dan tidak berbicara satu sama lain. Dari ketergantungan terhadap teknologi  setiap saat, tanpa disadari telah melahirkan karakter-karakter baru pada generasi digital ini.

Dari acara yang saya tonton ini, lama-kelamaan saya menyadari juga bahwa ketergantungan terhadap teknologi bisa menjauhkan yang dekat, meski memang bisa mendekatkan yang jauh. Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s