Zona Nyaman

Ada sebuah kutipan yang berisi, there is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone. Anda tentu pernah mendengar comfort zone atau zona nyaman, atau bahkan Anda tidak sadar telah sekian lama berada dalam zona nyaman tersebut. Namun, pada dasarnya, zona nyaman adalah suatu kewajaran dan alamiah.

Sejak kita dilahirkan, kita dilatih untuk senantiasa berada dalam zona nyaman, daerah yang nyaman dan terlindungi. Kita diberi ASI dan dicukupkan segala keperluannya oleh orangtua. Dilindungi dari kepanasan dan kedinginan, didekap dan dicium dengan penuh kasih sayang. Itu semua adalah zona nyaman yang kita rasakan sejak awal terlahir ke dunia.

Lalu, waktu beranjak dan mengusik zona nyaman kita. Alam dan lingkungan telah berubah, mau tidak mau kita harus bisa cepat beradaptasi lagi. Misalnya, setelah kita agak besar, orangtua akan berhenti memberi ASI dan mulai menyuruh kita untuk bisa mandiri. Perubahan ini membuat kita “tidak nyaman” karena zona nyaman kita terusik. Sebagai bentuk keterusikan, kita akan protes, demo, dan tidak menerima. Namun, setelah menjalaninya selama sekian lama, akhirnya kita bisa menerima dan menganggapnya sebagai zona nyaman yang baru.

Begitulah seterusnya dalam setiap fase hidup kita, mulai dari masuk sekolah lalu menghadapi ujian untuk kenaikan tingkat, tentu ujian adalah “gangguan” yang mengusik zona nyaman kita. Namun, ujian itu juga menjadi pintu masuk kita menuju zona nyaman yang lain, dengan meninggalkan zona nyaman yang lama. Disinilah kita akan menjalani proses upgrading, yaitu peningkatan kapasitas diri kita.

Begitupun saat kuliah, bekerja, atau fase-fase hidup lain, sebenarnya kondisi tersebut selalu membawa kita dari zona nyaman yang satu ke zona nyaman yang lain, tapi perubahan itu awalnya memang akan terkesan mengusik. Itulah yang dinamakan perubahan, selalu membawa kita keluar-masuk antar zona kenyamanan sampai kita menemukan titik keseimbangan dan keteraturan. Karena manusia secara naluriah selalu ingin mencari keteraturan. Perubahan dilakukan untuk berpindah dari satu keteraturan ke keteraturan yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s