Merantau: Dunia itu Luas

Salah satu “motivation letter” saya untuk melanjutkan studi ke luar negeri adalah agar saya bisa melihat dunia. Sedari lahir, saya dibesarkan dan tinggal di Bandung. Sekolah mulai dari TK hingga kuliah sarjana saya habiskan di Bandung, tercatat saya telah “mendekam” diri saya di Bandung selama 23 tahun. Berhubung Bandung juga memiliki institusi pendidikan yang baik, maka zona nyaman itu semakin mengikat saya. Periode kuliah sebenarnya membuka peluang bagi saya untuk merantau, tapi lagi-lagi saya harus tetap di Bandung karena kampus impian saya berlokasi di Bandung.

Meskipun saya pernah diajak orang tua saya ke Lampung, mengikuti dinas Bapak saya. Tapi, itu sudah sangat lama, ketika saya berumur 5 tahun-an, sampai-sampai saya sudah tidak ingat lagi. Saya merasa pemikiran saya akan terkungkung jika terus berlama-lama tinggal di Bandung. Apalagi saya tinggal dengan orang tua, kesempatan saya untuk bisa belajar mandiri sangat kecil. Saya berada dalam zona nyaman untuk waktu yang lama, dalam konteks kota kelahiran. Dan saya berpikir, saya tidak akan banyak mendapat pelajaran dan pengalaman jika saya tidak mencoba untuk keluar dari zona nyaman tersebut.

Terbukalah bagi saya jalan untuk melihat dunia tersebut, menjamah tanah perantauan. Karena saya belum pernah merantau sebelumnya, saya khawatir karena belum ada pengalaman. Tidak tanggung-tanggung, sekalinya merantau dan ingin keluar dari Bandung, saya “terdampar” di tanah Jepang. Benar-benar jauh dari zona nyaman saya sebelumnya. Jauh dari orang tua, jauh dari teman, jauh dari segala kenyamanan yang saya nikmati selama 23 tahun ini.

Tapi, inilah keinginan saya. Saya ingin merantau agar bisa melihat dunia. Hingga saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa dunia itu luas. Ada dunia di luar dunia kamar saya, ada dunia di luar dunia rumah saya, ada dunia di luar dunia keseharian saya, ada dunia di luar dunia kota saya dulu. Pemikiran saya pun jadi terbuka dan terlatih untuk bisa menerima perbedaan. Bahkan untuk hal yang tidak sesuai dengan idealisme, tapi tetap berusaha bagaimana agar bisa idealis yang realis.

Saya mendapat setruman semangat ketika membaca lagi nasihat Imam Syafii (dikutip dalam Negeri 5 Menara), bahwa merantau itu banyak memiliki keutamaan. Juga dari kisah para pembesar-pembesar Islam dulu, mereka-mereka itu adalah perantau ulung. Meninggalkan sarangnya, menanggalkan baju kebesarannya, dan melepas zona nyamannya dulu untuk bergerak ke zona nyaman baru yang lebih baik. Mereka meng-upgrade dirinya dan lingkungannya.

Disinilah saya sekarang. Waktu sangat cepat berlalu, melibas siapa saja yang lengah. Tahu-tahu, kita sudah berada di posisi kita saat ini. Entah itu pilihan kita sendiri atau bukan. Yang pasti, kebaikan hasil pasti selalu mendampingi mereka yang totalitas dalam berikhtiar dan bertawakal. Karena kita tidak pernah mendapatkan apa yang kita usahakan, yang kita dapat adalah keberkahan dari amal dan ikhtiar kita. Allah mengganjar kesungguhan kita. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang …

@rizaldwiprayogo

3 thoughts on “Merantau: Dunia itu Luas

  1. puri

    Hidup di jepang hampir 3th tapi tidak merasakan suasana jepang sepenuhnya, tp berkat membaca beberapa postingan ini…kore kara motto ganbaru . . soro soro indonesia e kaeru kara, chotto ganbaru. Iro iro benkyo shitai node . Postingan nya sangat bermanfaat. Arigatoo😄

    Reply
  2. ovitt

    pengalaman saya merantau.. Org2 di sana, yg laki2 menghina saya, menipu saya, memfitnah saya, menghajar saya dll pdhl saya sering menolong org. Org2 di sana, yg perempuan sering menolak saya, meremehkan saya, mempermainkan saya, mengejek saya dll. Pdhl saya selalu baik dan jujur. Mungkin krn saya org nya BOLOHO dan LETOY shg mengalami nasib spt ini.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s