Fase-fase Perantau

Sebagai perantau, saya sempat juga merasakan apa yang dinamakan sebagai fase bulan madu. Fase yang membuat saya seperti di negeri utopia, segalanya tampak lebih baik dari kondisi saya sebelumnya, selalu membandingkan negeri asal saya dengan negeri yang kini saya tinggali. Dan pada akhirnya, selalu saya simpulkan bahwa negeri asal saya selalu lebih buruk dibandingkan dengan negeri yang baru.

Semakin banyak hal-hal baru yang saya temui dan ternyata lebih baik. Pemikiran jadi lebih terbuka. Kebiasaan-kebiasaan baru pun mulai terbentuk menyesuaikan dengan budaya di sini. Kerendahan hati pun diuji untuk mau menerima. Namun, tidak sepenuhnya kebiasaan saya berubah, hanya mengalami sedikit penyesuaian. Dan ternyata, kebiasaan-kebiasaan baru tersebut sedikit-banyak memengaruhi jam biologis saya.

Dan kini, telah satu bulan berselang saya menjejaki tanah rantau. Fase bulan madu itu pun mulai menjadi hal yang biasa. Saya telah beradaptasi dengan tempat baru saya di sini, mulai dari hal makanan, belanja, bersosialisasi, cuaca, jam biologis, dll. Semua telah terbiasa dan berjalan sebagaimana biasanya. Inilah yang saya namakan sebagai fase penerimaan.

Dalam fase penerimaan ini, kita tidak bisa sepenuhnya menerima. Ada hal-hal tertentu yang kita anggap lebih baik di negeri asal kita. Inilah yang membuat kita merasa rindu tanah air, rindu merasakan kembali kultur di tanah air dan segala kebiasaan-kebiasaannya. Dan pada fase ini, para perantau rentan terhadap gejala galau, he he…

Pada keadaan tereksitasi seperti ini, biasanya kondisi yang ada jauh dari kestabilan dan keteraturan (steady state), sedangkan manusia menghendaki adanya keteraturan itu. Maka, rasa ingin kembali ke steady state tersebut sangat kuat, ingin rasanya kembali dekat dengan orang-orang tercinta.

Barangkali dalam beberapa bulan ke depan, fase ini akan berganti dengan fase yang lain. Yang pasti lebih menantang karena kita tengah beradaptasi dengan peralihan zona, yaitu dari zona nyaman yang satu ke zona nyaman yang lain. Biasanya, peralihan zona tersebut yang membuat kita enggan bergerak. Atau bahkan mungkin, pada akhirnya kita akan merasa sangat betah di negeri orang dan enggan pulang ke negeri asal karena telah menemui zona nyaman di negeri perantauan.

Tapi, saya percaya bahwa apapun fasenya, itu yang membuat kita belajar. Ya, belajar menjadi manusia yang tangguh, tidak cengeng, dan bisa berdikari. Sampai saat ini, saya masih memegang teguh nasihat Imam Syafii untuk para perantau. Nasihat ini yang menginspirasi saya untuk bisa berkelana seperti Ibnu Batutah dan nasihat ini pula yang mendorong saya untuk merantau ke negeri orang.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

@rizaldwiprayogo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s