Idealis tapi Realistis

Menjadi realistis itu bukan berarti menghilangkan mimpi sama sekali. Tapi, menyesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan kemampuan. Berpikir realistis berarti kita mengukur sejauh mana mimpi-mimpi kita dan membenturkannya dengan kemampuan diri. Dilihat juga dari sisi ketersediaan waktu, kapabilitas, dan feasibility.

Namun, kebanyakan orang justru jadi tidak berani bermimpi karena takut menemui realitas yang sebenarnya. Ia berpikir, biarlah hidup tanpa mimpi apapun, mengikut saja kepada alur yang terjadi. Dan biasanya, orang yang tidak punya mimpi, ia juga tidak punya motivasi yang kuat untuk bergerak. Karena ia tidak punya tenaga penggerak, yaitu mimpi.

Padahal, mimpi itu menguatkan niat dan motivasi karena ada sesuatu yang ingin dikejar. Semakin kuat mimpi, semakin kuat motivasi. Dan orang yang punya motivasi kuat juga biasanya idealis, ia punya prinsip dan nilai tertentu yang dipegang.

Tapi, seringkali juga orang terlalu idealis sehingga tidak mau menerima realitas yang berada di luar kondisi idealnya. Inginnya sama persis dengan yang ada dalam mimpinya. Padahal, kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Orang idealis biasanya perfeksionis, tapi kalau kita terus menuntut kesempurnaan, kita juga tidak akan dapat apa-apa.

Inilah maksud saya agar kita bisa idealis tapi realistis, yaitu bisa fleksibel dengan kondisi yang ada, tapi tidak sampai menghilangkan mimpi dan idealisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s