Memulai dan Berkesinambungan

Hal yang paling dirasa berat saat ingin melakukan sesuatu adalah memulainya. Karena konsekuensinya, kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah kita mulai. Memulai, start up, memang membutuhkan energi lebih banyak. Namun, saat fase start up tersebut sudah terlewati, energi yang kita keluarkan tidak akan sebesar saat memulai. Yang ada hanyalah kita harus menjaga keseimbangan energi itu.

Tapi, menurut saya fase terberat adalah bukan saat memulai. Memulai memang berat, tapi yang lebih berat justru sikap istiqomah (persisten) kita dalam menjalani proses yang telah kita mulai. Bagaimana supaya apa yang telah dimulai bisa tetap berkesinambungan. Bagaimana supaya tidak putus di tengah jalan. Bagaimana kita bisa menyelesaikan apa yang telah kita mulai.

Ada orang biasanya terlalu cepat merasa puas, jadinya ia bersikap minimalis. Berusaha sedikit, tapi ekspektasinya tinggi. Ia cepat merasa puas terhadap apa yang sudah dia mulai, sehingga tidak sampai selesai pun ia tetap merasa puas. Istilahnya, yang penting sudah mencicipi, selanjutnya ia tidak membuatnya berkesinambungan.

Jangan jauh-jauh, dalam lingkungan kita pun sering terjadi bagaimana keistiqomahan itu sulit dijaga. Ketika kita menetapkan target mingguan, target bulanan, atau target-target lainnya. Seringkali, semangat membara di awal-awal, selanjutnya mulai redup dan akhirnya padam. Apa yang sudah dimulai tidak dijaga berkesinambungan. Yang penting sudah mencicipi.

Contoh lain adalah saat kita dan teman-teman membuat jadwal latihan mingguan. Awal-awalnya masih semangat, masih banyak orang yang ikut andil. Di pertengahan, karena ada jadwal yang bentrok (dan alasan lain), pelan-pelan sudah mulai berguguran. Minggu berikutnya, berkurang lagi karena minggu sebelumnya tidak ikut. Terus-menerus begitu sehingga akhirnya hanya beberapa saja yang masih bertahan. Yang penting sudah mencicipi, selanjutnya ada saja alasannya.

Bicaranya peningkatan kualitas, tapi ketika diajak untuk meningkatkan kuantitasnya dulu malah malas. Padahal, kualitas baru akan terlihat ketika kuantitasnya sudah banyak. Kuantitas sedikit sulit untuk menentukan kualitas. Sekali lagi, memulai memang berat, tapi bagaimana kita bisa istiqomah menjaga agar tetap berkesinambungan itu jauh lebih berat. Ganbatte ne!

One thought on “Memulai dan Berkesinambungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s