Rehat Sejenak: 百万石まつり

Saya percaya kalau rutinitas itu menghambat kreativitas. Maka, kita perlu rehat sejenak dari segala rutinitas dan lakukanlah sesuatu yang membuat kita terhibur. Hari sabtu kemarin pas sekali ada festival tahunan di Kanazawa dengan nama Hyakumangoku matsuri (seperti tulisan kanji di atas). Sebenarnya, acara ini seperti parade (dan tarian) dari berbagai elemen masyarakat maupun instansi. Misal saja ada dari kepolisian Kanazawa, fire department, students, dan macam-macam.

Parade dimulai dari jam 1 siang. Saya bertiga berangkat dari apato setelah sholat dzuhur, dan waktu sampai di dekat stasiun (駅), ternyata jalan sudah pada ditutup untuk kendaraan (seperti Car Free Day). Jadi, saya hanya bisa jalan. Saya parkirkan sepeda di Omicho langsung menuju stasiun untuk melihat pembukaannya. Tapi ternyata sudah banyak orang disana, spot-spot terbaik sudah ditempati. Untuk mengambil foto saja juga agak susah, saya tidak mendapat spot yang bagus.

Tapi ternyata spot di stasiun lama-lama membosankan juga, harus berdesak-desakan. Ya sudah, kami bertiga kembal ke Omicho karena sudah janjian dengan yang lain untuk segera berganti kostum. Ya, karena kami juga ikut ambil bagian di festival ini. Tapi, acara yang kami ikuti baru mulai sekitar jam 6 sore, jadi sambil menunggu dan berganti kostum, kami sempatkan untuk melihat parade dari dekat.

Sebenarnya, nyaris saja saya tidak ambil bagian di festival ini. Karena saya sebelumnya belum tahu seperti apa festival ini, saya pikir hanya bisa melihat-lihat saja, tapi ternyata bisa ikut ambil bagian juga. Saya pun mendaftar di hari terakhir pendaftaran, karena baru mendapat info jadi saya cepat-cepat menghubungi teman dan meminta untuk gabung. Syukur, masih ada kesempatan untuk gabung, kami tergabung bersama foreigner lainnya.

Ternyata ganti kostum kimono dan segala tetek-bengeknya memakan waktu cukup lama (baca:tidak efektif). Dan kami juga sebelumnya tidak tahu acara akan dimulai jam berapa, dan kami harus bersiap jam berapa. Kami putuskan akan sholat dulu, saat itu antara jam 16.00 – 16.30 JST, tapi kemudian kami disuruh cepat-cepat untuk berkumpul di Kohrinbo (area festival). Ya sudah, kami ambil wudhu saja dulu di ruang ganti dan meniatkan untuk sholat di area festival nanti.

Tapi ternyata, area festival sudah banyak pengunjung. Kami bingung mau sholat Ashar dimana, sulit mencari tempat yang pantas dan layak. Ya sudah, kami minta ijin dulu dan bergegas mencari tempat sholat. Hingga sampailah kami di taman samping gedung Museum, tempatnya cukup pantas dan layak. Kami sholat Ashar di situ. Bukan hal yang aneh memang bagi para perantau untuk mendirikan sholat dimanapun ia berada, bahkan beratapkan langit sekalipun. Bukankah hamparan bumi ini tempat sholat?

Sesudah sholat Ashar, kemudian kami kembali gabung dengan grup. Grup kami memakai kimono hijau. Entahlah, apa benar kimono “asli” yang kami pakai, hehe … Dan pas! Begitu kami kembali, acara sudah akan dimulai. Betapa Allah Maha Memudahkan. Meskipun belum pernah berlatih tariannya sebelumnya, tapi ternyata tariannya mudah dihapal. Dan karena diulang berkali-kali jadi cepat lagi hapalnya. Sampai tidak sadar, satu setengah jam lebih kami berparade. Fyuuh, seperti aerobik, lumayan sambil olahraga. Ini foto grup kami,

Festival berakhir sekitar jam 8 malam. Segera kami bergegas ganti baju untuk mengejar sholat magrib (info: waktu Isya jam 21.45). Dan lagi-lagi, kami kesulitan mencari tempat sholat. Akhirnya kami putuskan saja untuk sholat di samping sungai Saigawa (jangan bayangkan sungai seperti di Indonesia, di Jepang sini sungainya bersih dan jernih, bantaran sungainya juga luas). Sudah beberapa kali saya sholat beratapkan langit di tanah rantau ini, karena sedang di perjalanan dan waktunya mepet.

Bersyukurlah teman-teman di Indonesia yang setiap kali waktu sholat terdengar adzan, syukurilah nikmat itu dengan mendatangi tempat sholat dengan bergegas. Di Jepang sini, suara adzan hanya terdengar ketika akan sholat Jumat saja, itupun hanya di dalam ruangan. Untuk sholat lima waktu, kami berpatokan pada jadwal sholat yang kami unduh lewat internet. Atau kalau saya rindu, saya nyalakan saja streaming TV Indonesia untuk mendengar adzan, tapi tentu berbeda waktunya.

Sekian cerita rehat sejenak dari saya, mudah-mudahan ke depannya akan selalu ada inspirasi dan hikmah yang bisa digali dan dibagi. Salam dari Kanazawa, Jepang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s