Mencari Kunci: Pelajaran Tawakal

Tadi pagi, seperti biasa setelah masak, makan, lalu mandi, saya bersiap-siap untuk masuk kelas Nihonggo jam 08.45. Saya biasa berangkat dari apato sekitar jam 08.10 dengan sepeda. Tapi, tadi pagi saya agak terburu-buru sehingga membuat saya panik dan serba tidak well-organized (Pelajaran: kondisi terburu-buru justru malah mengulur waktu lebih lama, karena tidak well-organized).

Barang bawaan wajib sudah otomatis langsung dimasukkan ke tas, seperti bento dan kunci-kuncian (selain buku). Dan perlengkapan juga biasanya otomatis terpakai, seperti jam tangan, dompet, jaket, dan yang terakhir … kunci sepeda. Mungkin karena sedang terburu-buru dan panik, jadi saya lupa dimana menyimpan kunci sepeda ini. Saya cek ke saku jaket, ternyata tidak ada. Kemungkinannya cuma dua: saku jaket dan saku celana. Ternyata di dua-duanya tidak ada.

Saya makin panik karena sudah akan terlambat, kemudian saya berpikir untuk tidak masuk kelas saja. Tapi, ketinggalan sekali malah lebih susah untuk mengejar materi. Saya tekadkan untuk tetap masuk, lalu saya pikirkan rencana alternatif berangkat ke kampus. Ternyata, rencana itu nampaknya tidak memungkinkan, mengingat bis jemputan (bis yang biasa menjemput KU Students) sudah berangkat jam 08.15. Saya cek sepeda, siapa tahu kuncinya menggantung disitu, tapi ternyata juga tidak ada.

Lalu saya balik lagi ke apato dan ingin memastikan sekali lagi. Waktu sudah mepet dan kunci belum ketemu. Setelah saya cek lagi di apato, ternyata kuncinya belum ketemu juga. Sampai akhirnya saya benar-benar memasrahkan total kondisi saya ini. Dalam kondisi di puncak kekesalan, saya pasrah dan berucap, “Ya Allah, tunjukkan dimana kunci sepeda saya … ?”. Saat mengucapkan itu, saya benar-benar pasrah total. Tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Hingga kemudian, entahlah, kenapa badan ini “terinspirasi” dan “tergerakkan” untuk kemudian saya cek isi tas (siapa yang menggerakkan selain Allah?). Dan benar! Kuncinya ketemu! Langsung saya sujud syukur, dan segera bergegas menuju kampus.

Pelajaran: Dalam kondisi di puncak kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, lalu kita pasrahkan (tawakal) semua kepada Allah, niscaya Allah bukakan untuk kita jalan keluar terindah dengan cara-caraNya, yang kemudian membuat kita takjub dan terpana.

*Meski contoh kasus disini (mencari kunci) nampak sepele, tapi ini memberi saya pelajaran tentang tawakal. Itulah kenapa saya tuliskan dan saya bagi di blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s