Memilih Batu Loncatan: Lingkungan

Menyadari posisi dan episode yang tengah saya jalani sekarang, sejenak membangkitkan memori masa lalu saya dan mencoba untuk merenungi setiap jejak yang telah saya ambil. Ketika masa kanak-kanak, masa masuk SD, masuk SMP, masuk SMA, kuliah dan hingga sekarang ini. Ternyata, begitu banyak episode yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Tapi, tidak tahu mengapa, justru itu adalah jalan terbaik yang baru bisa saya rasakan saat melihat dari luar kotak.

Dan sampai saat ini, saya berkesimpulan bahwa lingkungan itu bisa memengaruhi impian kita selanjutnya. Saya teringat pada teman SD saya dulu, pada saat itu kami memiliki impian yang sama, yaitu masuk SMP favorit. Syukur pada waktu SD, saya dan teman saya itu selalu bersaing dalam prestasi belajar. Saya memiliki prestasi yang … Alhamdulillah. Begitu juga dengan teman saya. Dengan dasar prestasi itu, kami berani untuk bermimpi lebih besar, yaitu masuk SMP favorit (pada saat itu SMPN 5 Bandung).

Ada lagi teman kami yang prestasinya dirasa kurang, sebutlah X, ia tidak berani bermimpi lebih besar karena terpatok pada kondisinya. Maka, ia sudah membatasi impiannya dengan kondisi dirinya. Impiannya terbatasi lingkungannya. Singkat cerita, saya sudah masuk SMP favorit. Saya menjaga diri saya untuk tetap berada dalam lingkungan yang kompetitif. Otomatis saya memiliki teman-teman yang punya daya saing dan bermimpi besar.

Karena berada dalam lingkungan yang kompetitif, maka kemudian saya pun ikut terdidik dan terlatih (mental) untuk berani bermimpi besar lagi. Sedangkan si X yang tidak masuk SMP favorit, impiannya menurun sesuai dengan kondisi lingkungannya. Saya berani bermimpi untuk masuk SMA favorit, sedangkan  si X, karena impiannya terbatasi lingkungannya, maka ia tidak berani bermimpi untuk masuk SMA favorit. Lagi-lagi lingkungan memengaruhi impian kita selanjutnya.

Begitu pun saat akan memasuki jenjang kuliah. Pilihan institusi yang kita ambil, hampir pasti akan memengaruhi impian kita selanjutnya. Lingkungan yang kompetitif, akan membuat kita berani untuk bermimpi besar lagi. Maka, usahakan diri kita untuk selalu berada dalam lingkungan yang kompetitif. Begitu kita “terjerumus” pada lingkungan yang tidak baik dan kurang kompetitif, maka kemungkinan besar impian kita pun akan memudar.

Karena saya punya pengalaman ini, saya mewanti-wanti adik saya yang sedang berproses untuk masuk SMA. Saya bilang padanya, pilihan SMA kamu hari ini, akan memengaruhi impian kamu dalam memilih institusi ke depannya. Usahakan diri kita selalu berada dalam lingkungan yang kompetitif. Pilih lingkungan yang baik, pilih teman-teman yang punya impian. Maka, hampir pasti kita ikut kecipratan semangat itu.

Jangan jauh-jauh, coba tanyakan pada anak-anak SMA favorit tentang impian-impiannya. Maka, sebagian besar akan bermimpi untuk bisa masuk PTN favorit juga. Coba tanyakan pada mahasiswa ITB apa impian-impiannya, sebagian besar menjawab dengan idealisme tinggi dengan menyebut beberapa nama perusahaan nasional dan institusi (termasuk melanjurkan sekolah ke) luar negeri.

Sewaktu saya dan teman-teman organisasi mengadakan acara, semacam bakti sosial, ke desa binaan. Kami disana berdialog dengan masyarakat sekitar yang banyak berprofesi sebagai guru, petani, dan pedagang. Dan kemudian, ketika saya berinteraksi dengan anak-anak SD di desa binaan tersebut, saya tanya satu-persatu cita-cita mereka. Maka, yang ada dalam impian mereka adalah apa yang dekat dengan mereka sehari-hari, yaitu ingin menjadi guru, petani, dan pedagang (bukan berarti ini buruk, konteks saya adalah lingkungan dan impian). Betapa lingkungan itu memengaruhi impian kita selanjutnya.

Jika diilustrasikan, setiap pilihan lingkungan yang kita ambil saat ini, itu akan memengaruhi impian kita selanjutnya. Jika batu yang kita lompati lebih tinggi, pasti kita bermimpi untuk melompati batu yang lebih tinggi lagi. Sedangkan jika kita turun, akan sulit bagi untuk melompat lagi. Yang ada hanyalah kita terbatasi oleh lingkungan, sehingga kita hanya mampu bermimpi ala kadarnya. Maka, usahakan diri kita selalu berada dalam lingkungan yang baik. Jika kita tidak punya impian sekalipun, setidaknya kita punya keinginan untuk berkembang menjadi lebih baik.

5 thoughts on “Memilih Batu Loncatan: Lingkungan

  1. nadiaananda

    Pass banget nih om kita harus saling berbagi.. Ada yang mau Gorengan?? Ni ane punya’ ni… hehehe.. Biar semangat!!

    Reply
  2. Panjul

    Mau nanya dong,
    Kalo beasiswa ke jepang cman ada monbukagakusho aja? Ada yg laen ga?
    Gw liat rata” anak itb tembus wawancara, jadi ngiri deh
    Kebetulan punya niat S2 disana ngambil arsi, hahaha

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Sebenarnya ada bnyk peluang & program. Beasiswa monbusho itu beasiswa resminya pemerintah Jepang, tp di luar itu jg banyak. Kyk dr perusahaan2 Jepang: JASSO, Panasonic, Hitachi, dll.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s